Sabtu, 25 September 2021

Salam Ilmu

 


Keterlambatan Darah Nifas dalam Ketentuan Fiqih

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan, dan ada beberapa darah yang keluarnya setelah beberapa hari bahkan dua minggu setelah melahirkan. Lantas bagaimana pula dengan kewajiban shalatnya?

Persoalan ini telah diungkap oleh Syekh Muhammad Nawawi dalam Kitab Riyadhul Badi‘ah. Beliau  menuliskan  bahwa “Nifas merupakan darah yang biasanya keluar pascamelahirkan, tepatnya sebelum masa suci minimal haidh. Apabila, ia melihat darah setelah lima belas hari pascamelahirkan maka tidak ada nifas. Namun, jika ia melihatnya sebelum itu dan pascamelahirkan, seperti keluar darahnya terlambat, maka mulai nifasnya sejak terlihatnya darah. Sementara waktu bersihnya tidak dianggap nifas. Namun, waktu bersih tersebut diiitung masuk ke dalam masa enam puluh hari sehingga pada waktu tersebut ia wajib mengqadha shalat yang tertinggal dan pada waktu itu suaminya diperbolehkan bersenang-senang dengannya,”.

Dari petikan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan: 

1. Nifas adalah darah yang keluar dari perempuan pascamelahirkan sebelum lewat masa suci minimal antara dua haidh, yaitu 15 hari.

2. Apabila darah keluar setelah berlalu masa minimal suci (15 hari), maka tidak dianggap nifas tetapi darah haid (bagi perempuan haid).

3. Jika darah keluar sebelum masa minimal suci, dan terlambat keluarnya, maka nifasnya dihitung sejak darah keluar.

4. Masa suci sebelum darah nifas merupakan bagian dari masa terlama nifas, yaitu 60 hari. Darah yang keluar lebih dari 60 hari setelah melahirkan dianggap darah istihadhah.

5. Shalat-shalat yang terlewat pada masa suci sebelum nifas wajib diqadha.

6. Karena tidak keluarnya darah sebelum nifas dianggap masa suci, seorang istri boleh menerima ajakan hubungan intim suaminya. 


Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/118934/keterlambatan-darah-nifas-dalam-ketentuan-fiqih?_ga=2.51451753.1139906106.1632306055-1143331754.1614345937

Sabtu, 11 September 2021

SaLam Ilmu

 Sya’wanah al-‘Ubullah, Sufi Perempuan yang Selalu Menangis untuk Allah SWT

Sya’wanah adalah wanita Persia yang sangat kuat penghambaannya kepada Allah. Masa hidupnya sekitar abad ke-8 M. Imam Abdurrahman al-Sulami mengatakan: 

كانت تنزل الأبلة، وكانت عجيبة، حسنة الصوت، طيبة النغمة، تعظ الناس يقرأ لهم، ويحضرها الزهاد والعباد والمتقربة  

 “Sya’wanah tinggal di Ubullah. Ia seorang wanita mengagumkan, bersuara merdu, bagus bacaan (Al-Qur’an)-nya, memberi nasihat kepada banyak orang (dengan) membacakan kepada mereka (ayat-ayat Allah dan sunnah nabi-Nya). Hadir (di majelis)-nya orang-orang zuhud, ahli ibadah, dan orang yang sedang berupaya mendekati Allah” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzikr al-Niswah al-Mura’abbidât al-Shûfiyyât, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 394). Menurut Camile Adams Helminski, Sya’wanah adalah wanita yang sangat terkesan dengan keterbatasannya sendiri dalam mengabdi kepada Tuhan, dan wanita yang sangat merindukan persatuan atau perjumpaan dengan Sang Pencipta, sehingga ia terus menangis (Camile Adams Helminski, Women of Sufism, A Hidden Treasure: Writings and Stories of Mystic Poets, Scholars & Saints, Boston: Shambala Publications, Inc., 2003, h. 62).


Sya'wanah menganggap tangisan sebagai keberkahan dan rahmat. Baginya kebutaan di akherat jauh lebih menyakitkan dari pada dunia, karena ia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk merindu dan mencinta Tuhannya. Tidak ada yang lebih berharga selain kesempatan untuk merindui dan mencintai Allah, baik dengan tangisan maupun rasa takut. Artinya, Sya’wanah tidak sedang menyakiti dirinya, tapi meruahkan kebahagiaan dan keharuannya.   Menangis sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari, hingga Imam al-Sulami menyebutnya, “al-bâkiyât” (perempuan yang gemar menangis).

Sya’wanah menangis dengan tulus hingga banyak orang seperti ahli ibadah yang turut menangis mendengar nasihat atau syair-syair gubahannya (Imam Abu al-Farj Ibnu al-Jauzi, Shifah al-Shafwah, 2019, juz 2, h. 48). Allah berfirman dalam al-Qur’an (QS. Al-Isra’ [17]: 107-109): 

  قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا. وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا   

“Katakanlah: “Berimanlah kalian kepada-Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”



Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/115961/sya-wanah-al--ubullah--sufi-perempuan-yang-selalu-menangis-untuk-allah

Sabtu, 04 September 2021

Kajian Muslim


EMPAT KEMULIAAN MURABBI/GURU RUUHI WAL JASAD


1. Melihat wajah orang alim (guru) itu lebih baik dari pada bersedekah 1000 kuda.

ﻭَﻧَﻈْﺮُﻙ ﺇِﻟَﻰ ﻭَﺟْﻪِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﻓَﺮْﺱٍ ﺗَﺼَﺪﱠﻗْﺖَ ﺑِﻬَﺎ ﻓﻰِ ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ

“Melihatnya kamu kepada wajah orang alim lebih baik dibanding bersedekah di jalan Allah sebanyak seribu ekor kuda”


2. Mengucapkan salam kepada orang alim (guru) itu lebih baik dari pada beribadah sunnah 1000 tahun.

ﻭَﺳَﻠَﺎﻣُﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓِ ﺍَﻟْﻒِ ﺳَﻨَﺔٍ

“Mengucapkan salam kepada orang alim lebih baik dibanding ibadah sunnah seribu tahun”


3. Siapa saja yang berjalan menuju orang alim (guru) untuk menuntut ilmu, maka setiap satu langkah mendapatkan pahala 100 kebaikan.

ﻣَﻦْ ﻣَﺸَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺣَﻠَﻘَﺔِ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺑِﻜُﻞﱢ ﺧَﻄْﻮَﺓٍ ﻣِﺎﺋَﺔُ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ

“Orang yang berjalan menuju majelis orang alim, setiap langkahnya dibalas seratus kebaikan”


4. Barangsiapa duduk bersandingan dengan orang alim (guru), kemudian orang alim (guru) itu berkata, maka setiap kalimat bagi yang mendengarkan mendapatkan 1 kebaikan.

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻭَﺍﺳْﺘَﻤَﻊَ ﻣَﺎﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺑِﻜُﻞﱢ ﻛَﻠِﻤَﺔٍ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ

“Ketika seseorang duduk di samping orang alim dan mendengarkan perkataannya, setiap kalimatnya akan dibalas satu kebaikan.”


📚 Syekh An-Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tanqihul Qaul Syarah Lubab Al-Hadits

[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...