Senin, 27 Februari 2023

Aku Bukan Malaikat : Cerpen Kemuslimahan Berkarya

 Aku Bukan Malaikat

oleh Utvi Suci Andini


        Aku adalah Meli, seorang remaja yang sedang menuntut ilmu di dunia perkuliahan. Kesibukanku adalah mengerjakan tugas kuliah, membantu ibunya berjualan makanan tradisional, dan membantu di TPQ dekat rumahnya. Berawal dari kegagalan untuk masuk ke dunia perkualiahan, satu tahun menunggu tahun ajaran baru aku mengikuti bimbel masuk perguruan tinggi.

        Sore itu hasil pengumuman, sudah jelas aku tidak bisa kuliah tahun ini. 

“Ga papa… setahun itu sebentar kok” ibu memelukku yang sudah lemas dan putus asa.

“Ya…” jawabku singkat namun dadanya sesak harus menanggung kenyataan pahit


Hari-hari ia lalui menghabiskan waktu periode kepengurusan pemuda desa, aku sebagai ketua. 

Antara malas dan ingin menangkan diri, aku terpaksa berangkat rapat.

“Seru banget kemarin yah” teman-teman pengurus sibuk bercerita perihal kegiatan minggu lalu. Aku tidak bisa mendampingi anak buahnya karena mengurus berkas pendaftaran yang berujung gagal.

        Bukannya nyaman kumpul rame bareng teman-teman, justru sebaliknya. Aku di cuekin, tak ada satupun temannya yang menanyakan kabarnya walaupun sekedar basa-basi. Rapat dipimpin ketua pemuda lainnya, mas Fahrul. Setelah rapat selesai yang bagiku waktunya sangat lama, aku langsung pamit pulang.

“Aku pulang duluan ya.” Pengurus perempuan hanya bberapa yang menjawab iya. Malah yang tanggap adalah mas Fahrul.

“Jangan pulang dulu, nunggu beli es krim” kata mas Fahrul sambal benerin pecinya.

“Ga usah mas, makasih, langsung pulang aja.” aku sudah sangat bad mood. Kacau sekali hatiku, disaat harus menerima kecewa gak bisa kuliah tahun ini, teman-teman tidak ada yang bisa menghibur atau sekedar manyapa saja tidak.

        Rasanya berat banget, minggu-minggu awal teman-teman sibuk persiapan kuliah, aku hanya tersenyum dan harus ektra sabar menjawab pertanyaan teman SMA ku yang kebanyakan mereka lulus ujian perguruan tinggi.

Malam itu aku duduk di ruang tamu, sante seperti tidak ada beban padahal udah setengah stress.

“Assalamualaikum..” terdengar suara perempuan dari pintu depan.

“Waalikumsalam” aku bergegas membuka pintu dan melihat ustadzahku ditemani teman madrasah Meliyahku.

        Langsung aku salim kepada beliau, mempersilahkan duduk, dan memanggil ibu untuk menemui beliau. Tak lupa dua cangkir the manis hangat dan kue kering aku hidangkan sebagai jamuan. Rasanya tumben banget ustadazahku datang kerumah.

“Jadi gini Bu, saya tahu Meli sekarang masih belum kuliah kan ya? Di rumah terus kan ya?” ustadzah membuka inti pembicaraan.

“Nggih bu, ya gini ga ngapa-ngapain di rumah” jawabku pasrah

“Oh iya, kalau begitu di TPQ kan masih kurang tenaga pengajar, Meli bisa datang ke TPQ kalau sore, mengikuti jadwalnya.” Poin yang membuatku kaget, seketika mataku membulat.

“Kulo izin nggeh teng Ibune Meli, kulo nembung kangge mbiyantu teng TPQ” ustdaazh memandang ibuku.

“Nggih monggo Bu, kembali ke Meli, dia bersedia atau tidak.” Ibuku menatapku.

“Nggih Bu, insya allah siap, Cuma kan saya mungkin ada waktu sendiri untuk ikut bimbel persiapan tahun depan.” Kataku sambal mengangguk.

“Ga papa, fleksibel saja.” Akhirnya sejak saat itu aku mulai aktif membantu ustadzahku mengajar di TPQ. 


        Satu tahun berlalu, habis lebaran TPQ mngadakan ziaroh wali songo. Sangat disayangkan, aku harus memilih dua pilihan. Berangkat ikut ziaroh atau berangkat ke Yogya untuk mengikuti tes masuk sekolah kedinasan. Karena diawal aku sudah niat serius untuk masuk sekolah dinas, aku rela tidak ikut ziaroh dan pergi ujian.

        Masih belum rezekiku buat masuk sekolah kedinasan yang aku impikan. Tak patah semangat, aku masih bisa masuk universitas negeri melalui jalur sbmptn pada saat itu. Ujian aku lalui, alhamduliilah nilai memuaskan. Pengumuman jam 10 malam, ibuku sudah tidur sedangkan aku sedang dag dig dug gak karuan menunggu hasil ujian. Alhamdulillah aku diterima di universitas negeri dekat rumah, langsung aku bangunin ibuku, tak sadar kalo meluk ibu sambal nangis saking senengnya.

“Alhamdulillah.. doa ibu dan usahamu gak sia-sia menunggu satu tahun” ujar ibuku sambal terisak.

        Besoknya aku urus semua berkas dan persyaratan daftar ulang. Mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa dan keseruan lainnya di awal menjadi mahasasiswa baru. Baru Bahagia bisa lolos perguruan tinggi, lagi-lagi allah uji aku dengan sakit sampai harus opname. Sibuk orientasi mahasiswa baru satu kampus, aku harus izin ke kating dan pengurus karena bolak balik kontrol ke Rumah sakit. Aku didiagnosa sinusitis dan harus operasi. Tak mau pusing dan terlalu overthingking sampai akhirnya minggu-minggu awal kuliah, akhirnya sudah urgent banget harus tindakan operasi. 

        Cuma aku dan kedua orangtuaku yang tahu aku opname dan operasi, bahkan tetangga tak tahu aku nginap di rs. Teman-teman yang pada saat itu ada urusan untuk re organisasi pemuda desa pun tidak ada yang tahu dan kepo aku menghilang karena sedang drop sakit, ah.. sudahlah yang penting aku bisa sembuh. Siang itu aku control rawat jalan langsung masuk ke ruang rawat inap untuk persiapan operasi. Malam harinya langsung Tindakan. Kasih ibu sepanjang masa… disaat aku belum siuman, ibuku setia menunggu sampe aku sadar. Pukul 4 pagi hari aku sadar dan badanku tidak bisa bergerak mungkin karena efek bius.

    Sehari itu aku tidak bisa duduk terlalu lama, berefek pusing dan gak kuat liat muka sendiri.

“Ibu.. mukaku” aku meringis sambal menatap kaca. Hidung kanan ku disumbat tampon dan penuh perban. Pokoknya kaya zombie, gak bisa duduk hahaha…

        Malam harinya ustadz ustadzahku menjengukku. Alhamdulillah agak mendingan walaupun gak bisa ngobrol lama karena emang aku harus istirahat dan sulit ngomong. Besok paginya harus ganti tampon, dan aku salah satu pasien yang aneh. Biasanya sekali ganti langsung bisa pulang. Aku sebaliknya, ganti tampon malah pendarahan sampe harus inap sehari lagi. 

        Alhamdulillah, berkat sabar sampe harus ngemut es batu akhirnya aku boleh pulang dengan catatan harus bed rest dulu dan jangan kuliah. Saking semangat menuntut  ilmu  yah,, baru 3 hari di rumah habis operasi, aku berangkat kuliah sendiri bawa motor. Alhasil di kampus teman-temanku panik “Meli.. maskermu merah, darah ya?” karena aku nutupin hidung penuh perban pake masker, dan bener pulang ke rumah darah udah penuh di perban hidungku.

“Aa… ibu takut..” aku meringis dan ibuku tidak berani mengganti tampon yang sudah kotor darah.

        Besoknya aku ke dokter untukkcontrol dan ganti tampon. Sudah aku duga, kena omel dokter dan aku cuma berdiam tak berdaya mengakui kebodohanku. 

        Benar-benar awal semester yang berat.. alhamdulillah bisa aku lalui. Seiring berjalannya waktu aku menikmati masa kuliahku dan seperti remaja pada umumnya, kuliah dengan drama romance yang unfaedah. Tahun ke tiga aku di TPQ, anak-anak sudah mulai merasa dekat denganku, berasa banget kekeluargaannya. Sebaliknya, di rumah aku meradang karena ulah adikku yang manja. 

“Ibu harusnya adek itu berangkat sekolah jalan sendri, gausah diantar ayah. Dulu aku juga gitu, ujan deres bukannya diantar malah ayah ngga mau dan milih nyuruh anaknya budhe.” Entah kenapa siang itu di dapur saat adekku melawan ibuku, aku begitu lancar berkata seperti itu. 

“Kamu yah, kan pengin to adekmu hidupnya lebih enak dari pada kamu yang dulu. Katanya sering ngaji di TPQ tapi ga berubah kamu. Percuma” ibuku menjaawab ocehanku.

Aku hanya terdiam, membayangkan saat dulu aku sekolah seperti begitu prihatin kepada orang tua. Sedangkan sekarang adikku sangat manja dan sering gampang melawan orang tua. 

        Dari pada aku rebut dengan ibu aku memilih masuk kamar. Rasanya tenggorokanku seperti tercekik, mataku panas dan dadaku sesak. Isak tangisku sendiri di dalam ruangan kecil penuh buku dan tugas kuliah berantakan. 

“Ya Allah… begini beratnya jadi anak pertama perempuan. Aku bukanlah malaikat, yang tanpa melakukan dosa apapun” berlarut dalam tangisan sampai mataku bengkak. 

        Aku hanya butuh teman curhat, di rumah ini tidak ada yang mau mengerti perasaaanku. Nyatanya sangat menguras tenaga dan emosi disaaat memaksakan agar orang sekitar memahamiku.

    Keesokan harinya,

“Win.. pergi kemana yok, aku sedang tidak baik-baik saja” aku mengajak Winda ke cafe dekat rel kereta

“Ayo” ditengah kesibukan tugas kuliah dan kegiatan TPQ aku menyempatkan deep talk dengan Winda. Teman sejak SD sampai sekarang, rumahnya dekat denganku jadi gampang kalua ngajak main.

    Sesampainya di cafe. 

“Kamu kenapa? Ada apa? Cerita aja” tanpa ba bi bu Winda memeluk dan menguatkan aku yang mulai nangis lagi padahal mataku masih merah.

“Winda…” aku mulai menceritakan semuanya, yang ada di pikiranku saat itu adalah apa yang aku lakukan selama ini ga ada gunanya. Orang terdekatku bahkan tidak mendukungku. Mereka tidak yakin padaku, apalagi aku yang diluar sana selalu dihormati layaknya seorang guru, padahal aku sekotor ini.

        Hampir satu jam aku mengungkapkan unek- unek sampai jilbabku basah buat ngelap mataku.

        Yang aku butuhkan sekarang adalah dukungan, tempat cerita, orang yang mau mendengarkan keluh kesahku. 

“Win… aku mu keluar saja, aku menyerah” ujarku menutup obrolan sore itu.

        Selepas magrib aku menguatkan niatku, untuk sowan ke ustad dan ustadzahku mengutarakan niatku.

“Bu.. Meli boleh minta waktunya sebentar untuk ngobrol empat mata Bu?” di tengah-tengah santri aku mendekati ustadzah dan meminta kepada beliau untuk ngobrol serius.

        Beliau memilih ruang lantai dua madrsah dekat balkon. Suasanya sepi dan jauh dari anak-anak berkativitas.

“Sebelumnya terimakasih Bu, mohon maaf jika saya lancang. Meli mohon izin untuk undur diri dari TPQ bu.” Sambal menundukkan wajah aku langsung menyampaikan maksudku.

“Ada apa Meli? Kenapa bicara seperti itu? Pak Ustad sedang ada tamu belum bisa ditemui.” Ustadzahku panik.

“Ngga papa Bu” aku berusaha menahan tangis.

“Kamu kenapa? Apa kamu disuru kerja oleh orang tua?” ustadazh yang sudah mengenalku hampir 10 tahun sudah paham dan dekat sekali denganku.

“Bukan bu, mereka tidak menuntut apapun.” Aku mulai terbuka, kucerittakan semua tentang masalah aku dan perkataan ibuku.

“Meli merasa ngga pantes Ibu, disini oleh anak-anak seperti di istimewakan, tetapi di rumah bahkan orang tua sendiri tidak mendukung bahkan berkata seperti itu.” Suaraku mengecil dan tidak berani menatap beliau.

“Meli kasihan sama ibu Meli Bu, adik-adik Meli berani melawan dan membentak. Tapi setiap  Meli ngasih masukan,cerita selalu di bilang seperti itu, Meli tau Meli bukan malaikat, Meli selalu kesini ngaji bukan berarti Meli ngga bisa melakukan kesalahan, Meli bukan malaikat Bu” suara tangis ku semakin kencang. Baru kali ini aku berani mengutarakan isi hati sampai nangis sejadi-jadinya di depan ustadzah. Beliau memelukku dengan lembut.

“Saya tau, Meli mesti bingung banget di posisi seperti itu. Saya juga dulu pernah dikata seperti itu, tapi saya tetap kekeh, saya haanya mencari ridho Allah, berbuat baik, dan berusaha Bahagia dan memberikan kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.” Jelas beliau.

“ Iya Bu” aku menyeka air mata.

“Tugas kamu sebagai anak hanya bisa mendoakan mereka orang tuamu. Sekarang lakukan apapun itu asal bermanfaat, tidak merugikan, dan carilah ridho Allah bukan hanya mencari pengakuan dari manusia” ustadzah kembail merangkul dan mengganggam tanganku, berusaha meyakinkan dan berharap aku merubah niatku.

"Tetaplah disini Meli... disini membutuhkanmu, bantu kami sebisamu, kami tidak menuntut sempurna.” Tangisku Kembali pecah, begitu baiknya beliau telah menganggapku seperti putrinya sendiri.

“Baik bu.. semoga Meli kuat menghadapi ujian dari orang-orang terdekat Meli.” Aku salim dan mencium tangan beliau.

        

        Setelah hari itu, seperti dihantam badai aku harus lebih kuat. Ternyata ujian berat juga datang dari orang terdekat kita. Tugas kita hanya mengharap ridho allah. Tak ada yang bisa memahami diri kita, kecuali Allah swt. Semoga Langkah-langkah baik kita, niat baik dan tulus kita selalu mendapat ridho dari Allah swt. 

Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...