Senin, 27 Februari 2023

Karya Anggota Putri KMNU Unsoed | Kemuslimahan Berkarya

 Kemuslimahan Berkarya

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

Halo mas mba, apa kabarnya nih? Semoga selalu sehat dalam lindungan Allah yaa

Pada postingan kali ini, kami akan memperkenalkan karya - karya yang dibuat oleh anggota putri KMNU Unsoed nih! Karya - karya ini adalah sebuah karya sastra yang diwadahi oleh Departemen Kemsulimahan melalui program kerja kemuslimahan berkarya. 

Nah berikut ini adalah beberapa karyanya, bisa di cek di masing masing link postingan berikut yaa :)

   1. Puisi :

    Yuk cek karya puisi disini

   2. Essay :

    Pada kesempatan ini ada 2 essay loh yang sudah dibuat, berikut judul essaynya 

  • Berkarirnya Seorang Muslimah dalam Islam bisa dibaca disini
  • Ketika Seorang Muslimah menjadi Aktivis bisa dibaca disini

   3. Cerita Pendek : 

    Nah ada 2 cerita pendek nih yang sudah berhasil dibuat, yaitu

  • Ayo Mondok bisa dibaca disini
  • Aku Bukan Malaikat bisa dibaca disini
Gimana nih, menurut mas mba tentang karya yang telah dibuat? 
Sekian untuk postingan kali ini, dengan dibuatnya karya karya tersebut bisa sebagai batu loncatan bagi anggota putri KMNU Unsoed untuk lebih mendalami dalam bidang sastra. 

Terima kasih telah membaca :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh



Berkarirnya Seorang Muslimah dalam Islam : Essay Kemuslimahan Berkarya

 Berkarirnya Seorang Muslimah dalam Islam

oleh Elfi Rindiana


    Muslimah merupakan seorang wanita yang menganut ajaran agama Islam dan menjalankan kewajiabannya serta melaksanakan perintah dari Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam agama islam. Ada juga yang menyebutkan bahwa muslimah adalah perhiasan dunia. Diera perkembangan zaman yang semakin pesat ini, muslimah dituntut untuk aktif dan produktif. Oleh karena itu,  tidak menutup kemungkinan bagi seorang muslimah untuk berkarir. Saat ini, sebagian besar muslimah dibelahan dunia memiliki karir. Meskipun dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 33 menyebutkan yang artinya : “ Dan hendaklah kamu tetap di rumah dan janganlah kamu berhias atau bertingkah laku seperti perempuan-perempuan jahiliah”. Akan tetapi dalam Islam sebenarnya memperbolehkan seorang muslimah untuk berkarir asalakan sesuai dengan adab dan syarat yang ada. 

Adab yang pertama yaitu mendapatkan izin. Dalam konteksnya, bagi muslimah yang belum menikah boleh berkarir asalkan dengan seizin walinya. Wali yang dimaksud yaitu orang tua, orang yang mengasuh, nenek, kakek ataupun anggota keluarga lainnya. Sementara bagi muslimah yang sudah menikah, ketika hendak berkarir sebaiknya dengan seizin suaminya. Karena pada hakikatnya, seorang istri harus turut dan tunduk kepada seorang suami. 

Adab yang kedua yaitu berpakaian sopan. Hendaknya ketika seorang muslimah bekerja harus memakai pakaian yang sopan. Pakaian yang sopan bagi seorang muslimah yaitu yang menutup aurat. Yang mana aurat bagi muslimah adalah seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Selain itu, sebagaimana telah disebutkan diatas tadi bahwa seorang muslimah tidak boleh berhias ketika keluar rumah. Tidak boleh berhias yang dimaksud tidak boleh berlebihan juga tidak boleh memakai wangi-wangian.  Seorang muslimah cukup memakai pakaian yang sopan, rapi, bersih dan tidak berhias secara berlebihan ketika pergi bekerja. 

Adab yang ketiga yaitu aman dari fitnah dan tidak berkhalwat serta berikhtilat. Khalwat yang artinya menyepi. Khalwat merupakan berkumpulnya seorang laki-laki bersama perempuan yang bukan mahramnya dan tidak ada orang ketiga bersama mereka. Dengan kata lain, khalwat adalah berduaan antara seorang laki-laki dan perempuan. Sebagai seorang muslimah yang baik ketika bekerja tidak boleh hanya berduaan dengan laki-laki. Sementara ikhtilat adalah bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya disuatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi  diantara laki-laki dan perempuan tersebut seperti bersentuhan dan berdesak-desakan. Pada hakikatnya, ketika bekerja muslimah tidak boleh berdua-duaan dan tidak boleh terlalu berbaur serta akrab dengan laki-laki. Tidak berkhalwat dan berikhtilat dilakukan untuk mengahindari fitnah yang bisa berimbas terhadap diri seorang muslimah. 

Dengan demikian, dalam agama islam seorang muslima diperbolehkan untuk berkarir atau bekerja. Akan tetapi dengan mengikuti adab yang diajarkan dalam agama islam. Adab seorang muslimah dalam berkarir yaitu mendapatkan izin dari wali bagi yang belum menikah dan mendapatkan izin dari suami bagi yang sudah menikah, berpakaian sopan dengan menutup aurat dan tidak boleh berhias secara berlebihan, Menjauhi khalwat dan ikhtilat sehingga terhindar dari fitnah. 

Aku Bukan Malaikat : Cerpen Kemuslimahan Berkarya

 Aku Bukan Malaikat

oleh Utvi Suci Andini


        Aku adalah Meli, seorang remaja yang sedang menuntut ilmu di dunia perkuliahan. Kesibukanku adalah mengerjakan tugas kuliah, membantu ibunya berjualan makanan tradisional, dan membantu di TPQ dekat rumahnya. Berawal dari kegagalan untuk masuk ke dunia perkualiahan, satu tahun menunggu tahun ajaran baru aku mengikuti bimbel masuk perguruan tinggi.

        Sore itu hasil pengumuman, sudah jelas aku tidak bisa kuliah tahun ini. 

“Ga papa… setahun itu sebentar kok” ibu memelukku yang sudah lemas dan putus asa.

“Ya…” jawabku singkat namun dadanya sesak harus menanggung kenyataan pahit


Hari-hari ia lalui menghabiskan waktu periode kepengurusan pemuda desa, aku sebagai ketua. 

Antara malas dan ingin menangkan diri, aku terpaksa berangkat rapat.

“Seru banget kemarin yah” teman-teman pengurus sibuk bercerita perihal kegiatan minggu lalu. Aku tidak bisa mendampingi anak buahnya karena mengurus berkas pendaftaran yang berujung gagal.

        Bukannya nyaman kumpul rame bareng teman-teman, justru sebaliknya. Aku di cuekin, tak ada satupun temannya yang menanyakan kabarnya walaupun sekedar basa-basi. Rapat dipimpin ketua pemuda lainnya, mas Fahrul. Setelah rapat selesai yang bagiku waktunya sangat lama, aku langsung pamit pulang.

“Aku pulang duluan ya.” Pengurus perempuan hanya bberapa yang menjawab iya. Malah yang tanggap adalah mas Fahrul.

“Jangan pulang dulu, nunggu beli es krim” kata mas Fahrul sambal benerin pecinya.

“Ga usah mas, makasih, langsung pulang aja.” aku sudah sangat bad mood. Kacau sekali hatiku, disaat harus menerima kecewa gak bisa kuliah tahun ini, teman-teman tidak ada yang bisa menghibur atau sekedar manyapa saja tidak.

        Rasanya berat banget, minggu-minggu awal teman-teman sibuk persiapan kuliah, aku hanya tersenyum dan harus ektra sabar menjawab pertanyaan teman SMA ku yang kebanyakan mereka lulus ujian perguruan tinggi.

Malam itu aku duduk di ruang tamu, sante seperti tidak ada beban padahal udah setengah stress.

“Assalamualaikum..” terdengar suara perempuan dari pintu depan.

“Waalikumsalam” aku bergegas membuka pintu dan melihat ustadzahku ditemani teman madrasah Meliyahku.

        Langsung aku salim kepada beliau, mempersilahkan duduk, dan memanggil ibu untuk menemui beliau. Tak lupa dua cangkir the manis hangat dan kue kering aku hidangkan sebagai jamuan. Rasanya tumben banget ustadazahku datang kerumah.

“Jadi gini Bu, saya tahu Meli sekarang masih belum kuliah kan ya? Di rumah terus kan ya?” ustadzah membuka inti pembicaraan.

“Nggih bu, ya gini ga ngapa-ngapain di rumah” jawabku pasrah

“Oh iya, kalau begitu di TPQ kan masih kurang tenaga pengajar, Meli bisa datang ke TPQ kalau sore, mengikuti jadwalnya.” Poin yang membuatku kaget, seketika mataku membulat.

“Kulo izin nggeh teng Ibune Meli, kulo nembung kangge mbiyantu teng TPQ” ustdaazh memandang ibuku.

“Nggih monggo Bu, kembali ke Meli, dia bersedia atau tidak.” Ibuku menatapku.

“Nggih Bu, insya allah siap, Cuma kan saya mungkin ada waktu sendiri untuk ikut bimbel persiapan tahun depan.” Kataku sambal mengangguk.

“Ga papa, fleksibel saja.” Akhirnya sejak saat itu aku mulai aktif membantu ustadzahku mengajar di TPQ. 


        Satu tahun berlalu, habis lebaran TPQ mngadakan ziaroh wali songo. Sangat disayangkan, aku harus memilih dua pilihan. Berangkat ikut ziaroh atau berangkat ke Yogya untuk mengikuti tes masuk sekolah kedinasan. Karena diawal aku sudah niat serius untuk masuk sekolah dinas, aku rela tidak ikut ziaroh dan pergi ujian.

        Masih belum rezekiku buat masuk sekolah kedinasan yang aku impikan. Tak patah semangat, aku masih bisa masuk universitas negeri melalui jalur sbmptn pada saat itu. Ujian aku lalui, alhamduliilah nilai memuaskan. Pengumuman jam 10 malam, ibuku sudah tidur sedangkan aku sedang dag dig dug gak karuan menunggu hasil ujian. Alhamdulillah aku diterima di universitas negeri dekat rumah, langsung aku bangunin ibuku, tak sadar kalo meluk ibu sambal nangis saking senengnya.

“Alhamdulillah.. doa ibu dan usahamu gak sia-sia menunggu satu tahun” ujar ibuku sambal terisak.

        Besoknya aku urus semua berkas dan persyaratan daftar ulang. Mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa dan keseruan lainnya di awal menjadi mahasasiswa baru. Baru Bahagia bisa lolos perguruan tinggi, lagi-lagi allah uji aku dengan sakit sampai harus opname. Sibuk orientasi mahasiswa baru satu kampus, aku harus izin ke kating dan pengurus karena bolak balik kontrol ke Rumah sakit. Aku didiagnosa sinusitis dan harus operasi. Tak mau pusing dan terlalu overthingking sampai akhirnya minggu-minggu awal kuliah, akhirnya sudah urgent banget harus tindakan operasi. 

        Cuma aku dan kedua orangtuaku yang tahu aku opname dan operasi, bahkan tetangga tak tahu aku nginap di rs. Teman-teman yang pada saat itu ada urusan untuk re organisasi pemuda desa pun tidak ada yang tahu dan kepo aku menghilang karena sedang drop sakit, ah.. sudahlah yang penting aku bisa sembuh. Siang itu aku control rawat jalan langsung masuk ke ruang rawat inap untuk persiapan operasi. Malam harinya langsung Tindakan. Kasih ibu sepanjang masa… disaat aku belum siuman, ibuku setia menunggu sampe aku sadar. Pukul 4 pagi hari aku sadar dan badanku tidak bisa bergerak mungkin karena efek bius.

    Sehari itu aku tidak bisa duduk terlalu lama, berefek pusing dan gak kuat liat muka sendiri.

“Ibu.. mukaku” aku meringis sambal menatap kaca. Hidung kanan ku disumbat tampon dan penuh perban. Pokoknya kaya zombie, gak bisa duduk hahaha…

        Malam harinya ustadz ustadzahku menjengukku. Alhamdulillah agak mendingan walaupun gak bisa ngobrol lama karena emang aku harus istirahat dan sulit ngomong. Besok paginya harus ganti tampon, dan aku salah satu pasien yang aneh. Biasanya sekali ganti langsung bisa pulang. Aku sebaliknya, ganti tampon malah pendarahan sampe harus inap sehari lagi. 

        Alhamdulillah, berkat sabar sampe harus ngemut es batu akhirnya aku boleh pulang dengan catatan harus bed rest dulu dan jangan kuliah. Saking semangat menuntut  ilmu  yah,, baru 3 hari di rumah habis operasi, aku berangkat kuliah sendiri bawa motor. Alhasil di kampus teman-temanku panik “Meli.. maskermu merah, darah ya?” karena aku nutupin hidung penuh perban pake masker, dan bener pulang ke rumah darah udah penuh di perban hidungku.

“Aa… ibu takut..” aku meringis dan ibuku tidak berani mengganti tampon yang sudah kotor darah.

        Besoknya aku ke dokter untukkcontrol dan ganti tampon. Sudah aku duga, kena omel dokter dan aku cuma berdiam tak berdaya mengakui kebodohanku. 

        Benar-benar awal semester yang berat.. alhamdulillah bisa aku lalui. Seiring berjalannya waktu aku menikmati masa kuliahku dan seperti remaja pada umumnya, kuliah dengan drama romance yang unfaedah. Tahun ke tiga aku di TPQ, anak-anak sudah mulai merasa dekat denganku, berasa banget kekeluargaannya. Sebaliknya, di rumah aku meradang karena ulah adikku yang manja. 

“Ibu harusnya adek itu berangkat sekolah jalan sendri, gausah diantar ayah. Dulu aku juga gitu, ujan deres bukannya diantar malah ayah ngga mau dan milih nyuruh anaknya budhe.” Entah kenapa siang itu di dapur saat adekku melawan ibuku, aku begitu lancar berkata seperti itu. 

“Kamu yah, kan pengin to adekmu hidupnya lebih enak dari pada kamu yang dulu. Katanya sering ngaji di TPQ tapi ga berubah kamu. Percuma” ibuku menjaawab ocehanku.

Aku hanya terdiam, membayangkan saat dulu aku sekolah seperti begitu prihatin kepada orang tua. Sedangkan sekarang adikku sangat manja dan sering gampang melawan orang tua. 

        Dari pada aku rebut dengan ibu aku memilih masuk kamar. Rasanya tenggorokanku seperti tercekik, mataku panas dan dadaku sesak. Isak tangisku sendiri di dalam ruangan kecil penuh buku dan tugas kuliah berantakan. 

“Ya Allah… begini beratnya jadi anak pertama perempuan. Aku bukanlah malaikat, yang tanpa melakukan dosa apapun” berlarut dalam tangisan sampai mataku bengkak. 

        Aku hanya butuh teman curhat, di rumah ini tidak ada yang mau mengerti perasaaanku. Nyatanya sangat menguras tenaga dan emosi disaaat memaksakan agar orang sekitar memahamiku.

    Keesokan harinya,

“Win.. pergi kemana yok, aku sedang tidak baik-baik saja” aku mengajak Winda ke cafe dekat rel kereta

“Ayo” ditengah kesibukan tugas kuliah dan kegiatan TPQ aku menyempatkan deep talk dengan Winda. Teman sejak SD sampai sekarang, rumahnya dekat denganku jadi gampang kalua ngajak main.

    Sesampainya di cafe. 

“Kamu kenapa? Ada apa? Cerita aja” tanpa ba bi bu Winda memeluk dan menguatkan aku yang mulai nangis lagi padahal mataku masih merah.

“Winda…” aku mulai menceritakan semuanya, yang ada di pikiranku saat itu adalah apa yang aku lakukan selama ini ga ada gunanya. Orang terdekatku bahkan tidak mendukungku. Mereka tidak yakin padaku, apalagi aku yang diluar sana selalu dihormati layaknya seorang guru, padahal aku sekotor ini.

        Hampir satu jam aku mengungkapkan unek- unek sampai jilbabku basah buat ngelap mataku.

        Yang aku butuhkan sekarang adalah dukungan, tempat cerita, orang yang mau mendengarkan keluh kesahku. 

“Win… aku mu keluar saja, aku menyerah” ujarku menutup obrolan sore itu.

        Selepas magrib aku menguatkan niatku, untuk sowan ke ustad dan ustadzahku mengutarakan niatku.

“Bu.. Meli boleh minta waktunya sebentar untuk ngobrol empat mata Bu?” di tengah-tengah santri aku mendekati ustadzah dan meminta kepada beliau untuk ngobrol serius.

        Beliau memilih ruang lantai dua madrsah dekat balkon. Suasanya sepi dan jauh dari anak-anak berkativitas.

“Sebelumnya terimakasih Bu, mohon maaf jika saya lancang. Meli mohon izin untuk undur diri dari TPQ bu.” Sambal menundukkan wajah aku langsung menyampaikan maksudku.

“Ada apa Meli? Kenapa bicara seperti itu? Pak Ustad sedang ada tamu belum bisa ditemui.” Ustadzahku panik.

“Ngga papa Bu” aku berusaha menahan tangis.

“Kamu kenapa? Apa kamu disuru kerja oleh orang tua?” ustadazh yang sudah mengenalku hampir 10 tahun sudah paham dan dekat sekali denganku.

“Bukan bu, mereka tidak menuntut apapun.” Aku mulai terbuka, kucerittakan semua tentang masalah aku dan perkataan ibuku.

“Meli merasa ngga pantes Ibu, disini oleh anak-anak seperti di istimewakan, tetapi di rumah bahkan orang tua sendiri tidak mendukung bahkan berkata seperti itu.” Suaraku mengecil dan tidak berani menatap beliau.

“Meli kasihan sama ibu Meli Bu, adik-adik Meli berani melawan dan membentak. Tapi setiap  Meli ngasih masukan,cerita selalu di bilang seperti itu, Meli tau Meli bukan malaikat, Meli selalu kesini ngaji bukan berarti Meli ngga bisa melakukan kesalahan, Meli bukan malaikat Bu” suara tangis ku semakin kencang. Baru kali ini aku berani mengutarakan isi hati sampai nangis sejadi-jadinya di depan ustadzah. Beliau memelukku dengan lembut.

“Saya tau, Meli mesti bingung banget di posisi seperti itu. Saya juga dulu pernah dikata seperti itu, tapi saya tetap kekeh, saya haanya mencari ridho Allah, berbuat baik, dan berusaha Bahagia dan memberikan kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.” Jelas beliau.

“ Iya Bu” aku menyeka air mata.

“Tugas kamu sebagai anak hanya bisa mendoakan mereka orang tuamu. Sekarang lakukan apapun itu asal bermanfaat, tidak merugikan, dan carilah ridho Allah bukan hanya mencari pengakuan dari manusia” ustadzah kembail merangkul dan mengganggam tanganku, berusaha meyakinkan dan berharap aku merubah niatku.

"Tetaplah disini Meli... disini membutuhkanmu, bantu kami sebisamu, kami tidak menuntut sempurna.” Tangisku Kembali pecah, begitu baiknya beliau telah menganggapku seperti putrinya sendiri.

“Baik bu.. semoga Meli kuat menghadapi ujian dari orang-orang terdekat Meli.” Aku salim dan mencium tangan beliau.

        

        Setelah hari itu, seperti dihantam badai aku harus lebih kuat. Ternyata ujian berat juga datang dari orang terdekat kita. Tugas kita hanya mengharap ridho allah. Tak ada yang bisa memahami diri kita, kecuali Allah swt. Semoga Langkah-langkah baik kita, niat baik dan tulus kita selalu mendapat ridho dari Allah swt. 

Aamiin.

Sabtu, 25 Februari 2023

Ayo Mondok : Cerita Pendek | Kemuslimahan Berkarya

Ayo Mondok!

oleh Natasya Syifadela Ardafa

Halo perkenalkan, aku Fia. Tidak perlu tanya nama lengkapku karena aku tidak akan memberikan nama lengkapku, menurutku itu privasi. Aku adalah seorang anak kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan lulus. Oh ralat, aku dari MA bukan SMA. Oke aku kasih tau buat yang belum tahu, MA adalah Madrasah Aliyah, ia setingkat dengan SMA hanya versi islamnya saja. Aku tau, kalian yang membaca ini pasti mengira aku orangnya galak, judes, sombong, dan tidak punya teman. Selamat, kalian tertipu. Ini hanya permulaan dan ketika masuk ke dalam inti cerita aku yakin kalian akan terbuai dengan caraku dalam bercerita. Aku akan bercerita dan cerita ini bermula saat detikdetik menjelang kelulusanku di Sekolah Dasar. 

Saat itu, aku duduk di bangku kelas 6 SD. Sebelumnya aku adalah murid pindahan dari suatu kota di Jawa Timur. Namun pekerjaan ayahku mengharuskan sekeluargaku pindah ke suatu kota di Jawa Tengah. Awalnya aku tidak suka, karena aku tidak memiliki teman di sini tetapi seiring berjalannya waktu aku memiliki banyak sahabat, kita adalah 6 sahabat yang tak terpisahkan. Mereka sering sekali main ke rumahku dan hal itu membuatku senang. Kita juga berjanji akan bareng-bareng terus sampai kuliah. Aku bahkan sudah bilang ke orangtuaku akan hal itu. Orangtuaku juga menyetujui hal tersebut, tentunya dengan catatan apabila nilaiku masuk ke sekolah tersebut. Persetujuan orangtuaku ternyata hanya omongan belaka. Nyatanya setelah pengumuman kelulusan aku di daftarkan di suatu pondok di Jawa Barat dan diterima. Kala itu aku hanya pasrah dan menjalani dengan setengah hati. Tiga bulan pertama aku hanya bisa menangis, minta pindah. 

Setahun sudah kujalankan dengan “mondok” di Jawa Barat. Orangtuaku ternyata mengingat janjinya, apabila setahun aku belum betah maka aku akan dipulangkan. Awalnya aku senang, namun ternyata aku sudah terlanjur nyaman. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan sampai akhir. Tak disangka, orangtuaku memberikan janji bahwa apabila aku berhasil bertahan sampai lulus menengah atas maka aku akan diajak umroh. Tentu saja aku senang, namun aku juga tidak mau terlalu berharap banyak. Seperti yang kalian sudah baca, bahwa orangtuaku sempat membohongiku. 

Saat liburan, seperti biasa aku akan dijemput dan berlibur di rumah. Suatu saat aku whatsapp salah satu sahabatku di sekolah dasar. Aku mengajaknya main dan ia mengiyakan ajakanku. Ketika besoknya aku ke rumahnya untuk “nyamper” main, tak disangka ibunya menyambutku hangat dan tiba-tiba bercerita sambal menangis. Beliau bercerita bahwa semenjak lulus sekolah dasar, temanku yang bernama Lia ini menjadi nakal, dalam artian suka membantah orangtuanya, sering main dan pulang malam, menuntut banyak hal seperti handphone keluaran terbaru, barang branded, dan lain sebagainya. Beliau memohon padauk untuk membujuk anaknya agar masuk pondok. Disitu aku hanya bisa menenangkan dan hanya bisa berkata bahwa aku akan mencoba membujuk Lia. Setelah sesi cerita tersebut habis, ternyata Lia belum bangun, alhasil aku tidak jadi main dan pulang dengan rasa bersyukur. Ternyata di pondok tidak seburuk itu, aku seharusnya berterima kasih pada orangtuaku yang memaksaku mondok, ya walaupun awalnya terpaksa. Nyatanya di pondok tak seburuk itu, di pondok sangat menyenangkan. 

Pada akhirnya aku berhasil bertahan di pondok hingga 6 tahun, alias lulus sampai menengah atas. Omongan orangtuaku yang akan mengajakku umroh sungguh terjadi, padahal aku sudah lupa. Aku sangat senang saat diberitahukan hal tersebut. Karena umroh tersebut sekaligus ke Turki, jadi senengnya double deh. Pada intinya, kalian semua jangan membantah perintah orangtua ya, selama hal tersebut adalah hal positif. Aku yakin orangtua teman-teman juga tahu apa yang terbaik untuk anaknya. 

Tamat


KETIKA SEORANG MUSLIMAH MENJADI AKTIVIS : Essay Kemuslimahan Berkarya

 KETIKA SEORANG MUSLIMAH MENJADI AKTIVIS

Oleh: Umri Qowiyah Banaa Hasanah


 Di era sekarang dimana sedang marak-maraknya kesetaraan gender, makin membuat perempuan-perempuan muslim menjadi tidak segan menampakkan karir mereka. Terlebih diiringi dengan derasnya arus teknologi yang semakin cepat yang dapat menjadi tempat untuk mengekspresikan karir yang mereka miliki. 

Perempuan dalam pandangan islam merupakan sosok yang keberadaannya sangat dimuliakan dibandingkan dengan posisi perempuan dalam banyak peradaban seperti pada peradaban Yunani dimana perempuan dianggap sebagai penyebab dari segala penderitaan dan musibah. Dari segi fisik, perempuan dalam islam sangat dimuliakan dengan diwajibkannya menutup aurat, tidak diperbolehkan keluar tanpa mahram, bahkan karena kemuliaannya tersebut sehingga yang boleh menyentuhnya hanya mahram dan juga suaminya saja. 

Kesetaraan gender sebagai salah satu hak asasi manusia, dimana manusia memiliki hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan, dan bebas dalam menentukan pilihan hidup tidak hanya diruntukan bagi para lelaki saja, namun pada hakikatnya perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki. Dengan demikian, kesetaraan gender ini hadir untuk menjujung tinggi persamaan hak sebagai manusia antara perempuan dan laki-laki, serta untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan seksual yang seringkali dialami oleh perempuan. 

Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dan memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat berbagai hak dakam kehidupan bermasyarakat yang telah diisyaratkan Allah dalam QS. Ibrahim ayat 1: 

َحِمْيِد ْ ِز ال عَ ِزْي ْ ٰى ِص َرا ِط ال ِ ِهْم اِل ِن َرب ِاذْ ِ ْو ِر ە ب ٰم ِت اِلَى النُّ ُ ُّظل َس ِم َن ال ْي َك ِلتُ ْخِر َج النَّا نٰهُ اِلَ ْ ب اَْن َزل ۗ ِكتٰ ٰر ۤ ال 

Artinya: “Alifِۙ lamِۙ ra,ِۙ (iniِۙ adalah)ِۙ Kitabِۙ yangِۙ Kami turunkan supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan YangِۙMahaِۙPerkasaِۙlagiِۙMahaِۙTerpuji”. 

Dan QS. Al-Hadid ayat 9

: َّن َّّللاَ ِ َوإ لَى النُّو ِرِۙ ِۙ ِ َما ِت إ ُ ل ْم ِم َن الظُّ ِنَا ت لِيُ ْخ ِر َجكُ ٰى عَبْ ِدهِ آيَا ت بَي ُل عَلَ ِذي يُنَ زِ َّ َو ال هُ َرءُو ف َر ِحيم ْم لَ ِكُ ب 

Artinya: “Dialahِۙyangِۙtelahِۙmenurunkanِۙkepadaِۙhamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu”. 

Lantas bolehkah perempuan berkarir? Islam tidak melarang perempuan untuk berkarir namun tetap terdapat batasan-batasan yang tentunya sudah ditetapkan oleh syariat. Dari segi berpakaian, seorang muslimah wajib menutup auratnya. Ketika muslimah membuka aurat dan menanggalkan hijabnya dikarenakan suatu pekerjaan, maka haram hukumnya pekerjaan tersebut baginya. Dengan kata lain, menutup aurat ini tidak dapat ditawar karena merupakan bagian dari islam dalam memuliakan seorang perempuan. Bagi perempuan yang belum menikah, ketika akan menjalankan karirnya harus mendapatkan izin dari orang tua atau walinya. 

Muslimah menjadi aktivis memang tidak mudah, tetapi mudah ketika dijalankan dengan niat karna Allah. Seorang Muslimah dapat mencontoh aktivis-aktivis perempuan pada zaman Rasulullah seperti Khadijah ra yang merupakan istri Rasulullah. Beliau ahli dalam hal perdagangan dengan manajemen yang sangat baik dan tidak perlu menjatuhkan harkat serta martabatnya hanya untuk mengejar dunia saja. Bahkan beliau memilih orang-orang yang berkompeten untuk menjualkan dagangannya. Artinya ketika seorang perempuan hendak berbisnis atau berkarir tentunya harus memiliki manajemen dan sistem yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat islam, sehingga dapat menjalankan karirnya dengan hebat tanpa harus menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang muslimah sekaligus dapat menjalankan karirnya tersebut sebagai ladang ibadah kepada Allah. 

Saat ini sudah banyak perempuan yang terang-terangan menampakkan karirnya baik secara langsung maupun tidak langsung atau secara online. Perlu diingat bahwa boleh saja perempuan berkarir dan menjadi aktivis, namun harus tetap mematuhi syariat yang sudah ditetapkan kepadanya. Memang semakin maraknya informasi tentang kesetaraan gender dan derasnya perkembangan teknologi membuat perempuan-perempuan menjadi lebih mudah untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka tampilkan. Namun sayangnya, masih banyak muslimah yang tidak memerhatikan syariat, misalnya muslimah yang berhijab namun hijabnya transparan atau perempuan yang berhijab namun berpakaian ketat, yang mana hal tersebut tidak dibenarkan dalam syariat islam. Mahasiswa sudah sepantasnya menjadi aktivis baik di kampus maupun di luar kampus. Seorang aktivis yang baik merupakan aktivis yang dapat memberikan kontribusi positif, baik untuk dirinya maupun orang lain. Sehingga, sangat diperlukan aktivisaktivis muslimah yang dapat berkontribusi dalam membuka pikiran dari kebanyakan perempuan yang sudah salah dalam memahami makna muslimah itu sendiri. Wallahu a’lam bi al-shawab. 

By: Umri Qowiyah Banaa Hasanah_Pendidikan Ekonomi/2020_081226649127

Kemuslimahan Berkarya : Puisi oleh Anggota KMNU Unsoed


~ Kemuslimahan Berkarya ~


Assalamualaikum mas mba KMNU Unsoed

Apa kabarnya nih? Semoga dalam keadaan baik yaa :)

Pada postingan kali ini, ada beberapa puisi nih dari hasil karya temen - temen anggota putri KMNU Unsoed. Karya ini diwadahi oleh departemen Kemuslimahan KMNU Unsoed melalui program kerja Kemuslimahan Berkarya. 

Berikut ini adalah hasil karyanya, yuk dibaca 


    1. Dibalik Hijab Besar oleh Roudhotul Jannah


    2. Pesona Adab Muslimah Karier oleh Sarwendah B. A.



    3. Jalan Saja Sebisamu oleh L. Aztazida R.



Nah, itulah karya dari beberapa anggota putri dalam program Kemuslimahan Berkarya ini. Semoga apa yang telah mereka buat dapat mengasah kemampuan mereka dalam menulis sebuah puisi.

Matur suwun mas mba, sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu di postingan selanjutnya ya!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...