Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim AS.
oleh: Dina Puspita

Siti
Hajar dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik, mulia, dan juga penuh
kesabaran. Selain itu, Siti Hajar juga dikenal sebagai sosok yang taat
beribadah, dan tak pernah mengeluh serta pantang menyerah dalam berbuat
kebaikan. Siti Hajar pada awalnya merupakan budak yang membantu Siti Sarah,
istri Nabi Ibrahim AS. Beliau didatangkan dari tanah Kanan untuk menemani Nabi
Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah.
Pada
saat itu, Siti Sarah belum juga diberi keturunan sementara usianya terus
bertambah. Rasa cintanya kepada sang suami membuat dirinya berpikir untuk
memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan.Maka, ia pun
meminta Siti Hajar untuk menikah dengan Nabi Ibrahim AS. Dan ia pun berharap
pernikahan itu bisa mendatangkan keturunan.
Nabi
Ibrahim kemudian memenuhi permintaan Siti Sarah untuk menikah lagi, dan
mempersunting Siti Hajar.
Setelah
menikah, Siti Hajar kemudian hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi
nama Ismail.Kelahiran Ismail ternyata membuat Siti Sarah merasa cemburu. Karena
rasa cemburu itu, Siti Sarah pun berjanji tak mau tinggal dengan Siti Hajar dan
anaknya dalam satu atap.Imam al Tsalabi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan,
pada waktu itu datanglah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa
Siti Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk
menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang
baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.
Pada
waktu itu Makkah sangatlah tandus, Tidak ada pohon, tidak ada air, dan sepi
dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya
terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Di
sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan, At-Tabari (838-923 M) dan Ibnu al
Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Sebuah
riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti
Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya.
Semakin
jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan
mengatakan "Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir
yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini?"."Apakah Allah SWT
memerintahkan kamu wahai suamiku?". "Benar" jawab Ibrahim.
"Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami" kata Siti
Hajar. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memandang semua wilayah di area
lembah yang gersang dan panas tersebut. Namun beliau masih percaya dan yakin
atas ucapan yang disampaikan sang suami, bahwa kekuasaan Allah adalah
keniscayaan. Allah selalu menolong hamba-Nya yang sedang dilanda kesusahan.
Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya atas janji Allah yang disampaikan
oleh sang suami.
Waktu
perlahan berlalu, tangisan Ismail mulai terdengar, menjadi sebuah pertanda
bahwa ia mulai kehausan. Setelah itu, beliau pun berkeliling mencari air.
Kakinya melangkah dari bukit Shafa ke Marwa, dan sebaliknya. Ia berjalan
bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Namun sayang, usahanya
sia-sia. Beliau kemudian kembali menemui sang putra dan khawatir jika putranya
tidak bisa bertahan. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan, beliau memohon
kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang putra.
Setelah
itu, Allah kemudian memberikan mukjizat-Nya Kaki Ismail mulai bergerak-gerak,
tumitnya dihentak-hentakkan di tanah yang gersang, beliau lalu memandangi putra
yang dikasihaninya, dan menganggap perilaku putranya itu masih sebuah
kewajaran.Namun tanpa diduga, air begitu derasnya mengucur dari jejak hentakan
kaki Ismail. Tanpa pikir panjang, belaiu
pun memberi minuman Ismail dengan air itu dan juga mengambilnya untuk
dirinya sendiri. Sumber mata air itu kini dikenal sebagai mata air Zamzam. Air
itulah yang membantu Siti Hajar bertahan di lembah gersang.
Kisah perjuangan Siti Hajar ini memberikan
pelajaran penting bagi kita, bahwa sebagai seorang muslimah harus kuat, sabar,
tegar, dan tak mudah putus asa meski kesulitan bertubi-tubuh sedang menimpanya.
INFO EBOOKJudul : Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibarahim AS.
Penulis : Dina Puspita
Serial : Kemuslimahan Berkarya Vol.9
"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.