Sabtu, 26 Juni 2021

SaLam Ilmu

 


Khansa', Penyair Perempuan yang Membuat Kagum Rasulullah

Nama lengkapnya adalah Tumâdlir binti ‘Amr bin al-Syarîd dari Bani Sulaim, disebut al-Khansâ’ karena hidungnya yang tidak terlalu panjang. Khansâ lahir di Najd dari keluarga kaya di zaman jahiliyah yang kemudian memeluk Islam. Khansâ merupakan salah satu penyair perempuan terbaik di eranya.

Gaya tutur dan pemilihan diksi yang digunakan Khansâ sangat luar biasa. Dengan karya-karyanya, Khansâ berhasil mengangkat syair-syair ritsa (elegi) ke level qarîdl, yaitu jenis puisi yang dipandang tinggi statusnya oleh orang Arab ketika itu. Meski seorang wanita, Khansâ sangat dihormati oleh sastrawan Arab lainnya.

Al-Nâbighah al-Dzubyânî, seorang penyair dari Bani Dhubyan yang hidup sekitar 535-604, pernah memuji al-Khansâ’ dengan mengatakan “Demi Allah, jikalau Abu Bashir (al-A’syâ) tidak membacakan puisinya padaku lebih dulu, akan kukatakan bahwa kau penyair terhebat dari jin dan manusia.”.

Dikisahkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta Khansa’ untuk membacakan sebuah syair, dan beliau pun kagum pada syair yang dibacakannya (yastansyiduhâ wa ya’jabuhu syi’rahâ).

Setelah memeluk Islam, tema dan isi dari syair-syair ratapan yang telah membawanya ke puncak popularitas berubah. Ketika ia mendengar empat orang anaknya, Yazid, Muawiyah, ‘Amr dan Amrah terbunuh dalam Perang Qadisiyyah dan Shakr yang gugur dalam menuntut balas kematian anaknya. Isi syair menjadi melebihkan ketabahannya, karena ia merasa dimuliakan dengan terbunuhnya mereka.

Khansâ wafat pada tahun 24 Hijriah (645 M) di usia sekitar 70/71 tahun.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya bahwa tidak ada yang membatasi seorang wanita untuk berkarya.

 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/124497/khansa---penyair-perempuan-yang-membuat-kagum-rasulullah

 

Sabtu, 12 Juni 2021

SaLam Ilmu

 

19 Adab Perempuan terhadap Dirinya Sendiri Menurut Imam al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Diin dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, hal. 442-443) menjelaskan tentang sembilan belas adab perempuan terhadap dirinya sendiri meliputi :

1.         Pertama, berorientasi rumah. Perempuan baik selalu memikirkan urusan domestik dalam rumah tangganya sesibuk apapun aktivitasnya di sektor publik.

2.         Kedua, duduk di dalam rumah dan sebaiknya tidak memanjat-manjat dinding atau dengan menaiki tangga untuk berbicara dengan tetangga.

3.         Ketiga, tidak masuk ke rumah tetangga kecuali keadaan memaksa. Hal ini karena di rumah tetangga itu bisa jadi ada laki-laki yang bukan mahrom.

4.         Keempat, menyenangkan suami bila dipandang. Apabila perempuan merawat dirinya dengan baik serta bertutur kata santun maka suaminya akan senang dan betah berada di rumah.

5.         Kelima, menjaga kehormatan suami bila ditinggal pergi.

6.         Keenam, tidak meninggalkan rumah serta apabila keluar hendaknya tidak mencari tempat yang sepi. Hal ini agar lebih terjamin keamanan dan keselamatannya dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, atau buruk secara moral ataupun hukum. 

7.         Ketujuh, menjaga diri dalam memenuhi kebutuhan tetapi menghindari orang-orang yang mengenalnya demi kebaikan diri sendiri.

8.         Kedelapan, mengurus rumah.

9.         Kesembilan, menunaikan shalat dan puasa. Ibadah kepada Allah baik berupa shalat maupun puasa harus dilaksanakan sesibuk apapun.

10.      Kesepuluh, mengoreksi diri sendiri.

11.      Kesebelas, memikirkan agamanya.

12.      Keduabelas, selalu diam. Diam disini bisa dimaknai sebagai sikap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan baik di dalam rumah atau di luar.

13.      Ketiga belas, menundukkan pandangan matanya.

14.      Keempat belas, merasa diawasi Tuhan.

15.      Kelima belas, banyak dzikir kepada Allah SWT.

16.      Keenam belas, taat kepada suami.

17.      Ketujuh belas, menganjurkan suami mencari rezeki yang halal dan tidak menuntutnya berpenghasilan melebihi batas pencapaiannya.

18.      Kedelapan belas, menampakkan sikap malu dan meminimalisasi kata-kata yang tak sopan, bersabar dan selalu bersyukur, bertindak sebagai teladan, menerima keadaan dan kekuatan diri sendiri.

19.      Kesembilan belas, jika seorang teman suami minta diizinkan masuk rumah, sementara sang suami tidak ada, sebaiknya tidak usah dihiraukan dan jangan membiasakan berbicara dengannya, demi menghindari rasa cemburu diri sendiri dan suami.

 

Sumber : 

https://islam.nu.or.id/post/read/107488/19-adab-perempuan-terhadap-dirinya-sendiri-menurut-imam-al-ghazali


[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...