Sabtu, 10 September 2022
SaLam ILmu : Haid yang Lama atau Tidak Lancar Menurut Mazhab Syafi'i
Sabtu, 27 Agustus 2022
SaLam ILmu : Fatimah binti Abbas: Ulama Perempuan Lintas Disiplin Ilmu Pengetahuan
[Fatimah binti Abbas: Ulama Perempuan Lintas Disiplin Ilmu Pengetahuan]
Nama lengkap wanita yang satu ini adalah Fatimah binti Abbas bin Abil Fatah bin Muhammad al-Baghdadiyah al-Qahirah al-Mishriyah.
Dalam kitab Syekh Salahuddin as-Shafadi disebutkan bahwa ia tidak sebatas menjadi wanita pengajar, lebih dari itu juga ahli ceramah di atas mimbar,
كَانَتْ تَصْعُدُ الْمِنْبَرَ وَتَعِظُ النِّسَاءَ، فَيُنِيْبُ لِوَعْظِهَا، وَانْتَفَعَ بِوَعْظِهَا جَمَاعَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ، وَرَقَّتْ قُلُوْبَهُنَّ لِلطَّاعَةِ بَعْدَ الْقَسْوَةِ
Artinya, “(Syekhah Fatimah) adalah wanita yang menaiki mimbar, memberi nasihat pada wanita, maka tumbuh (takwa) karena nasihatnya, para jamaah wanita mengambil manfaat dengan nasihatnya, bahkan hati mereka menjadi lunak untuk melakukan ketaatan setelah sebelumnya keras.”(Shalahuddin as-Shafadi, A’yanu al-‘Ushr wa A’wanu an-Nashr, [Beirut, Darul Fikr: 1998], juz II, halaman 170).
Tak hanya itu, pada akhirnya banyak gelar disematkan kepada namanya, yaitu :
اَلشَّيْخَةُ الْمُفْتِيَّةُ الْفَقِيْهَةُ الْعَالِمَةُ الزَّاهِدَةُ الْعَابِدَةُ، اَلْبَغْدَادِيَّةُ الْحَنْبَلِيَّةُ الْوَاعِظَةُ
Artinya, “(Fatimah) adalah guru wanita, ahli fatwa, pakar ilmu fiqih, luas ilmu, zuhud (tidak cinta dunia), ahli ibadah, kebangsaan Baghdad, mazhab Hanabilah, ahli ceramah (pendakwah).” (as-Shafadi, 1998 M: II/170).
https://www.nu.or.id/tokoh/fatimah-binti-abbas-ulama-perempuan-lintas-disiplin-ilmu-pengetahuan-pp8N7
Sabtu, 13 Agustus 2022
SaLam ILmu : Perempuan Bepergian Tanpa Mahram
[PEREMPUAN BEPERGIAN TANPA MAHRAM]
Bagi sebagian kalangan tentu pembatasan gerak perempuan menjadi hambatan sosial mereka untuk mengembangkan diri. Benarkah Islam menghambat wanita dengan melarang mereka bepergian tanpa atau menetap di luar daerah tanpa mahram? Jika memang demikian, apa sebenarnya alasan yang mendasari hal tersebut? Kebanyakan ulama kerap merujuk ketentuan perempuan bepergian tanpa mahram ini pada hadits di antaranya sebagai berikut:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يَحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة إلا ومعها ذو مَحرم
Artinya, “Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ’Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama dengan mahramnya,’” (HR Tirmidzi). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Ad-Daruquthni, serta imam muhaddits yang lainnya. Dalam beberapa riwayat lain dari Abu Said Al-Khudri atau Abdullah bin Abbas, tercatat juga larangan bepergian tanpa mahram ini dikisahkan dalam konteks pergi haji. Selain dalam urusan tujuan safar, Nabi SAW juga disebutkan berbeda-beda dalam menyatakan batasannya, kadang menyebutkan sehari, kadang menyebutkan sehari-semalam, kadang dua hari dan kadang juga tiga hari. Tentu saja perjalanan haji dan umrah istri-istri Nabi ini dari Madinah ke Makkah, yang jaraknya tak kurang dari 400 km.
أن عمر رضي الله عنه أذِن لأزواج النبي صلى الله عليه وسلم في آخر حجة حجَّها، فبعث معهنَّ عثمان وعبدالرحمن بن عوف
Artinya, “Umar mengizinkan para istri nabi SAW pergi haji pada haji yang terakhir dan mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf,” (HR Muslim). Oleh sebagian ulama mazhab, keamanan dan tiada fitnah inilah yang dijadikan larangan bepergian, bukan karena tiadanya mahram.
Dari sini juga timbul pendapat seperti dinyatakan Imam An-Nawawi dalam Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim yang memperinci: wanita tidak bepergian bersama dengan mahramnya kecuali untuk haji atau umrah. Selain untuk urusan haji dan umrah wajib, urusan yang membolehkan bepergian tanpa mahram adalah untuk pergi dari daerah yang zalim dan mengancam aktivitas keislamannya.
Bagaimana untuk keperluan belajar atau kerja? Mengingat kian banyak mahasiswi menempuh pendidikan di luar daerah bahkan luar negeri, serta banyaknya pekerja migran. Realitasnya, gelombang wanita perantauan ini telah terjadi dari masa ke masa. Hal ini dibolehkan, merujuk fatwa kontemporer dari Darul Ifta’ Al-Mishriyyah menyatakan:
والمختار للفتوى في شأن سفر المرأة لحضور منحة علمية من دون زوج أو محرم: هو جواز سفرها مع الرفقة المأمونة بشرط الأمان وموافقة الزوج أو الولي...
Artinya, “Pendapat yang lebih dipilih dalam adalah bepegian demi untuk menuntut ilmu tanpa ditemani mahram atau suami adalah boleh, asalkan ditemani dengan rekan yang terpercaya, aman, serta diiringi dengan izin dari pihak suami atau walinya.” Lebih jauh, larangan bepergian untuk perempuan kiranya tidak hanya soal halal haram, tapi juga perlu ditinjau dari pertimbangan adat atau sosial yang masih berkembang di masyarakat. Di zaman sekarang, kenyataannya perempuan telah bergerak melampaui fatwa-fatwa di atas: para pekerja migran, pelajar di negeri-negeri jauh, maupun bepergian ke beragam tempat di penjuru negeri. Hal ini menunjukkan bahwa prasyarat keamanan dan perlindungan inilah yang menjadi lebih utama dalam upaya memberi ruang lebih untuk perempuan di ranah publik.
Sumber: https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/perempuan-bepergian-tanpa-mahram-dalam-kajian-hadits-rlADv
Sabtu, 23 Juli 2022
SaLam ILmu : Ummu Ali Fatimah, Wali Perempuan Kaya Sahabat Abu Yazid al-Busthami
[Ummu Ali Fatimah, Wali Perempuan Kaya Sahabat Abu Yazid al-Busthami]
Ummu Ali Fatimah merupakan istri Ahmad bin Khudrawaih al-Balkhi (w. 240 H), seorang wali besar dari Balkh. Imam al-Dzahabi menggelarinya “al-zâhid al-kabîr” (seorang zahid yang luar biasa) (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1982, juz 11, h. 488). Ummu Ali lahir dari kalangan pembesar (pejabat). Ia memiliki harta yang melimpah dan gemar menafkahkannya untuk orang-orang tidak mampu.
Ummu Ali berjumpa secara langsung dengan Imam Abu Hafs al-Naisaburi (w. 264 H) dan Imam Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H).
Imam Abu Yazid al-Busthami memuji dan mengakui kualitas spiritual Ummu Ali. Ia berkata:
من تصوف فليتصوف بهمة كهمة أم علي، زوجة أحمد بن خضرويه، أو حال كحالها
Terjemahan : “Barangsiapa yang (ingin) bertasawuf, bertasawuflah dengan semangat (atau motivasi yang luhur) seperti semangatnya Ummu Ali, istri Ahmad bin Khudrawaih, atau (dengan) keadaan (spiritual) seperti keadaan (spiritual)nya.” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa yalîhi Dzkr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 407)
Ummu Ali adalah wanita kaya raya yang sangat dermawan. Ia tidak segan menyerahkan seluruh kekayaannya kepada orang yang membutuhkan. Sebagai sufi dan ulama, Ummu Ali sering mengutarakan pemikiran dan pengalamannya tentang kehidupan.
Bagi Ummu Ali, cobaan yang diberikan Allah adalah pendidikan untuk hamba-hamba-Nya, agar mereka terbangun dari kelalaian mereka. Artinya, cobaan dari Allah adalah tanda cinta dari-Nya. Ummu Ali membuktikan bahwa anak pejabat yang kaya raya bisa menjadi seorang sufi, wali, dan ulama.
Ummi Ali Fatimah wafat sekitar tahun 234 H mendahului suaminya, Imam Ahmad bin Khudrawaih yang wafat tahun 240 H. Ia meninggalkan warisan pengetahuan yang melimpah untuk digali oleh generasi setelahnya.
Sumber :
https://islam.nu.or.id/hikmah/ummu-ali-fatimah-wali-perempuan-kaya-sahabat-abu-yazid-al-busthami-D8sWd
Sabtu, 09 Juli 2022
SaLam ILmu : Perempuan-perempuan Pekerja dalam Kajian Hadits
Perempuan-perempuan Pekerja dalam Kajian Hadits
Akhir-akhir ini gerakan domestifikasi perempuan mulai digaung-gaungkan sejumlah kelompok. Mereka menyatakan bahwa fitrah perempuan adalah berdiam diri di rumah. Bahkan muncul berbagai satire, misalnya “Wanita betah di rumah itu bukan kuper tapi sunnah.” “Wanita yang bekerja ke luar rumah, setiap langkah kakinya adalah neraka.” Salah satu ayat yang sering dijadikan sandaran adalah Surat Al-Ahzab ayat 33 yang artinya“Tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.”
Selain mempertimbangakan teks-teks Al-Qur’an dan hadits, kita juga perlu melihat dari sisi sejarah karena sejarah adalah bagian penting dalam memahami hadits. Apakah perempuan di masa Nabi SAW hanya di rumah saja dan dilarang bekerja?
1. Mengikuti Ibadah Berjamaah
Para perempuan di masa Nabi Saw juga senantiasa mengikuti ibadah berjamaah, dari mulai shalat di masjid, i’tikaf, haji dan umrah, hingga menghadiri khotbah dan majelis-majelis ilmu. Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu’man misalnya. Ia sering kali mengikuti khutbah dan shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW hingga perempuan ini hafal seluruh Surat Qaf langsung dari lisan Rasulullah SAW.
2. Bekerja di Luar Rumah
Dalam berbagai literatur hadits dan sejarah, para perempuan di masa Nabi SAW juga bekerja dan memiliki keahlian tertentu. Beberapa yang terekam dalam sejarah di antaranya Zainab binti Jahsy (industri rumahan), Zainab Ats-Tsaqafiyah RA (industri rumahan), Malkah Ats-Tsaqafiyah RA (pedagang parfum), Sa’irah Al-Asadiyah RA (penenun), Asy-Syifa’ binti Abdullah Al-Quraisyiyah Ra (perawat), dan Ummu Ra’lah Al-Qusyairiyah RA (perias wajah). Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW juga dikenal sebagai pebisnis sukses pada masanya. Ia bahkan mampu mengelola bisnisnya hingga lintas negara.
3. Kontribusi dalam Keilmuan Islam
Selain berjihad, beribadah dan bekerja, perempuan di masa Rasulullah SAW juga berkontribusi dalam bidang ilmu. Terutama istri-istri dan kerabat Nabi Muhammad SAW. Aisyah misalnya, istri Rasulullah SAW ini, dikenal sebagai perempuan cerdas dan berilmu. Ia bahkan menduduki urutan keempat dari al-muktsirun fi ar-riwayah (orang-orang yang paling banyak meriwayatkan hadits). Banyak sahabat dan tabiin yang mendatanginya untuk menimba ilmu. Putri Abu Bakr ini bahkan memiliki 77 murid laki-laki dan 8 perempuan, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in.
https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/perempuan-perempuan-pekerja-dalam-kajian-hadits-tOBSN
Sabtu, 25 Juni 2022
SaLam Ilmu : Mu‘adzah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan yang Melawan Mati dalam Lalai
Mu‘adzah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan yang Melawan Mati dalam Lalai
Suatu ketika diriwayatkan bahwa Mu‘adzah bila siang tiba mengatakan, “Ini hari kematianku.” Ia lalu tidak makan hingga sore. Ketika malam tiba, Mu‘adzah mengatakan, “Ini malam kematianku.” Ia lalu tidak tidur. Ia melakukan shalat hingga pagi tiba. Mu‘adzah dikenal sebagai ahli ibadah yang kerap menghidupkan malam. Hal ini dilakukan agar ia tetap dalam keadaaan terjaga dan mengingat Allah saat ajal menjemput. Bila kantuk menyergap, ia berdiri dan berjalan-jalan di dalam rumah. Ia berkata, “Hai nafsu, tidur panjang (kematian) mengintai di depanmu.” Kalau sudah diserang kantuk begitu, ia terus berjalan-jalan di dalam rumahnya hingga pagi karena khawatir mati dalam keadaan lalai atau dalam keadaan tidur. (As-Sya’rani: At-Thabaqatul Kubra: 65).
Dalam sehari semalam Mu‘adzah melakukan shalat sebanyak 600 rakaat. Selama 40 tahun terakhir dalam hidupnya ia tidak pernah mendongakkan pandangannya ke langit karena takzimnya. Sejak kematian suaminya, Mu‘adzah tidak pernah lagi rebahan yang beralaskan kasurnya yang empuk. Ketika sore tiba, ia mengenakan pakaian tipis sehingga malam yang dingin menahannya dari tidur.
Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Muntakhab min Kitabiz Zuhdi war Raqa’iq meriwayatkan kewara’an Mu‘adzah dari Abdullah bin Umar Ar-Raqasyi. Suatu hari sufi wanita ini menderita sakit. Seorang tabib didatangkan kepadanya dan memberinya anggur sebagai resep obat bagi Mu‘adzah.
“Kubawakan segelas anggur dan kuletakkan di telapak tangannya,” kata Abdullah. “Ya Allah, sungguh Kau Maha Tahu. Jika obat ini halal bagiku, minumkanlah padaku dan sembuhkanlah aku. Tetapi jika tidak, jauhkanlah dariku,” kata Mu‘adzah berdoa. Seketika gelas di tangan Mu‘adzah retak dan isinya mengalir tumpah ke tanah. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)
Sumber: https://islam.nu.or.id/hikmah/mu-adzah-al-adawiyah-sufi-perempuan-yang-melawan-mati-dalam-lalai-skZJn
Sabtu, 11 Juni 2022
SALAM ILMU : Perempuan dalam Islam
Perempuan dalam islam
1. Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki
Jauh sebelum para aktivis perempuan Barat menggelar berbagai
macam demonstrasi untuk memperjuangkan hak-haknya, Islam sudah menyatakan bahwa
laki-laki dan perempuan itu memiliki hak yang sama. Hal ini sesuai dengan Surat
al-Baqarah ayat 228 dan Surat an-Nahl ayat 97, dimana laki-laki dan pferempuan
memiliki hak dan kewajiban yang sama dan mendapat imbalan yang sama pula.
Sementara itu, Surat at-Taubah ayat 71 menjadi dasar bahwa
perempuan itu memiliki hak politik yang sama dengan laki-laki. Ayat ini menjadi
sinyalemen bagi laki-laki dan perempuan untuk melakukan kerja sama dalam
berbagai sektor kehidupan, termasuk memberikan kritik dan saran kepada penguasa
(amar ma’ruf nahi munkar).
2. Perempuan wajib
untuk berpendidikan
Jika kita menengok beberapa hadist Nabi Muhammad, maka kita
akan menyadari bahwa apa yang dilakukan Taliban itu sangat melenceng dengan
semangat Islam dalam urusan pendidikan bagi perempuan. Bukankan Nabi Muhammad
saw. pernah bersabda bahwa Mencari ilmu pengetahuan adalah wajib (fardlu ‘ain)
bagi seorang Muslim dan Muslimah?
Hadist ini menekankan bahwa pendidikan itu bukan hanya hak,
namun juga sebuah kewajiban dan tanggung jawab bagi setiap seorang Muslim dan
Muslimah.
Bahkan, di dalam sejarahnya ada beberapa perempuan yang memiliki
pengetahuan yang luas dan mendalam. Tidak sedikit dari mereka juga menjadi
rujukan dan guru ulama laki-laki. Diantaranya adalah Aisyah ra., Sayyidah
Sakinah putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, Al-Khansa', Rabi'ah
Al-Adawiyah, dan lainnya.
Menurut Imam Abu Hayyan, ada tiga orang perempuan yang
menjadi guru-guru para imam mazhab yaitu Mu'nisat Al-Ayyubiyah, Syamiyat
Al-Taimiyah, dan Zainab putri sejarawan Abdul-Latif Al-Baghdadi. Termasuk
Syaikhah Syuhrah yang menjadi salah
seorang dari guru Imam Syafi’i.
3. Perempuan diberikan penghormatan yang tinggi
Islam juga mengajarkan umatnya untuk memberikan penghormatan
yang setinggi-tingginya bagi seorang perempuan, terutama ibu. Hal ini
didasarkan pada beberapa hadist Nabi Muhammad seperti hadist surga itu berada
di bawah telapak kaki ibu dan hadist tentang menghormati sang ibu.
Islam juga melarang umatnya untuk melakukan penindasan dan
perlakuan buruk kepada perempuan (QS. An-nisa:19). Dengan demikian, segala
bentuk pelecehan terhadap perempuan adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan
dalam Islam.
https://www.nu.or.id/opini/perempuan-dalam-islam-IdCK6
[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]
[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...
-
[Hukum Masuk Masjid Oleh Perempuan Haid dalam Pandangan Mazhab Syafi'i] قال المزني: رَحِمَهُ اللَّهُ - : " إِذَا جُعِلَ لِلْمُشْرِ...
-
Aku Bukan Malaikat oleh Utvi Suci Andini Aku adalah Meli, seorang remaja yang sedang menuntut ilmu di dunia perkuliahan. Kesibuka...
-
Pengurus KMNU Universitas Jenderal Soedirman masa khidmat 2020/2021 Bagan Pengurus KMNU Unsoed 2020/2021 Purwokerto, 18 April 202...