Selasa, 22 Desember 2020
Kemuslimahan Berkarya
Senin, 30 November 2020
Kemuslimahan Berkarya
BUKTI CINTA SEJATI
oleh: Endang Purwati
Pada 713 M atau 95 H, di kota Basrah, Irak, telah lahir
seorang perempuan bernama Rabiyah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Putri
keempat dari keluarga miskin di Basrah, Irak. Ia tumbuh sebatang kara karena
kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Seluruh saudaranya meninggal
akibat wabah kelaparan yang melanda Basrah. Robiyah merupakan sorang sufi
perempuan termasyhur dari Basrah, yang menyerahkan hidupnya hanya untuk
mencintai Tuhan-nya, sehingga tidak bisa menemukan cinta yang lain karena
kesempurnaan cintanya telah ditemukan dalam Tuhan. Robiyah Al Adawiyah dikenal
dalam keutamaan sosial (muamalah) maupun dalam pencapaianya menuju Allah
(ma’rifat).
Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul
khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi
setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash).
Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa,
Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna. Rabiah menganggap
ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual
karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin
yang menyertai ibadah tersebut. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan
atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran
istighfar usai beramal saleh.
Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW
beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan
syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan
ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah). Kita kemudian
mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin”
atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan
ampun kembali.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan
As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65).
Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang
lain. Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan
jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.” Selain itu rabiah
dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair
yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam
tiga larik berikut ini: Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka
menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.
Rabiyatul Adawiyah dikenal dengan keikhlasannya dalam
beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka
ataupun mengharap surga.
Al-Zabidi dalam Syarh Ihya ‘Ulumuddin menceritakan kisah
tentang Sufyan Al-Tsauri dan Rabi’ah. Al-Tsauri bertanya perihal hakikat iman
Rabi’ah,“Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka dan menginginkan surga
seolah aku menjadi buruh tak patuh. "Jika takut majikan ia akan bekerja, jika dibayar
ia baru akan bekerja.’ Aku menyembah-Nya karena cinta dan rinduku pada-Nya"
Tentang ikhlas ini ada sebuah kisah, bahwa suatu siang
Rabiah al-Adawiyah tengah berjalan di Kota Baghdad sambil menenteng air dan
memegangi obor di tangan kirinya. Seseorang pun bertanya kepadanya hendak dikemanakan
air dan obor tersebut? Rabiah al-Adawiyah pun menjawab: “Aku hendak membakar surga dengan obor dan
memadamkan neraka dengan air agar mereka
ikhlas dalam menjaga hati. Hamba Allah akan belajar untuk melihat-Nya tanpa
harapan pahala atau takut akan siksa. Sebagaimana terjadi sekarang, jika engkau
menarik harapan akan pahala atau takut akan siksa, tak akan ada seorang pun yang
beribadah atau taat.”
Allah berfirman dalam Alquran surah ar-Ra’d ayat 28-29 berbunyi :
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati
menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka mendapatkan
kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
Keikhlasan ibadah Rabiah al Adawiyah adalah bukti bahwa jiwanya hanya ada Cinta dan Rindu kepada Allah semata tanpa tendensi yang lainya. Rabiah sudah tidak takut dan tidak merisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Baginya, mencintai, menjalankan perintah dan mendekat kepada Allah adalah segalanya. Meniru keikhlasan ibadah layaknya Rabiah al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita.
Dari kisah tersebut seharusnya menggugah hati kita untuk
lebih mendekat dan terus ibadah kepada-Nya tanpa mengharap suatu imbalan
apapun. Beribadahlah dengan hati yang ikhlas.
Jumat, 30 Oktober 2020
Kemuslimahan Berkarya
HATI SELEMBUT BULU MERPATI
oleh: Dina Puspita
Senin, 28 September 2020
Kemuslimahan Berkarya
Senin, 10 Agustus 2020
Kemuslimahan Berkarya
DALAM BALUTAN DO'A MUSLIMAH
oleh: Resli April Liani
Senin, 13 Juli 2020
Kemuslimahan Berkarya
oleh: Annisa Nurul Hakim
INFO EBOOK
"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.
Selasa, 09 Juni 2020
Kemuslimahan Berkarya
[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]
[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...
-
[Hukum Masuk Masjid Oleh Perempuan Haid dalam Pandangan Mazhab Syafi'i] قال المزني: رَحِمَهُ اللَّهُ - : " إِذَا جُعِلَ لِلْمُشْرِ...
-
Aku Bukan Malaikat oleh Utvi Suci Andini Aku adalah Meli, seorang remaja yang sedang menuntut ilmu di dunia perkuliahan. Kesibuka...
-
Pengurus KMNU Universitas Jenderal Soedirman masa khidmat 2020/2021 Bagan Pengurus KMNU Unsoed 2020/2021 Purwokerto, 18 April 202...








