Senin, 11 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

 Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim AS.

oleh: Dina Puspita

Siti Hajar dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik, mulia, dan juga penuh kesabaran. Selain itu, Siti Hajar juga dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, dan tak pernah mengeluh serta pantang menyerah dalam berbuat kebaikan. Siti Hajar pada awalnya merupakan budak yang membantu Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Beliau didatangkan dari tanah Kanan untuk menemani Nabi Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah.

Pada saat itu, Siti Sarah belum juga diberi keturunan sementara usianya terus bertambah. Rasa cintanya kepada sang suami membuat dirinya berpikir untuk memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan.Maka, ia pun meminta Siti Hajar untuk menikah dengan Nabi Ibrahim AS. Dan ia pun berharap pernikahan itu bisa mendatangkan keturunan.

Nabi Ibrahim kemudian memenuhi permintaan Siti Sarah untuk menikah lagi, dan mempersunting Siti Hajar.

Setelah menikah, Siti Hajar kemudian hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.Kelahiran Ismail ternyata membuat Siti Sarah merasa cemburu. Karena rasa cemburu itu, Siti Sarah pun berjanji tak mau tinggal dengan Siti Hajar dan anaknya dalam satu atap.Imam al Tsalabi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa Siti Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.

Pada waktu itu Makkah sangatlah tandus, Tidak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Di sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan, At-Tabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya.

Semakin jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan mengatakan "Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini?"."Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?". "Benar" jawab Ibrahim. "Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami" kata Siti Hajar. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memandang semua wilayah di area lembah yang gersang dan panas tersebut. Namun beliau masih percaya dan yakin atas ucapan yang disampaikan sang suami, bahwa kekuasaan Allah adalah keniscayaan. Allah selalu menolong hamba-Nya yang sedang dilanda kesusahan. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya atas janji Allah yang disampaikan oleh sang suami.

Waktu perlahan berlalu, tangisan Ismail mulai terdengar, menjadi sebuah pertanda bahwa ia mulai kehausan. Setelah itu, beliau pun berkeliling mencari air. Kakinya melangkah dari bukit Shafa ke Marwa, dan sebaliknya. Ia berjalan bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Namun sayang, usahanya sia-sia. Beliau kemudian kembali menemui sang putra dan khawatir jika putranya tidak bisa bertahan. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan, beliau memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang putra.

Setelah itu, Allah kemudian memberikan mukjizat-Nya Kaki Ismail mulai bergerak-gerak, tumitnya dihentak-hentakkan di tanah yang gersang, beliau lalu memandangi putra yang dikasihaninya, dan menganggap perilaku putranya itu masih sebuah kewajaran.Namun tanpa diduga, air begitu derasnya mengucur dari jejak hentakan kaki Ismail. Tanpa pikir panjang, belaiu  pun memberi minuman Ismail dengan air itu dan juga mengambilnya untuk dirinya sendiri. Sumber mata air itu kini dikenal sebagai mata air Zamzam. Air itulah yang membantu Siti Hajar bertahan di lembah gersang.


Kisah perjuangan Siti Hajar ini memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa sebagai seorang muslimah harus kuat, sabar, tegar, dan tak mudah putus asa meski kesulitan bertubi-tubuh sedang menimpanya.



INFO EBOOK
Judul                    : Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibarahim AS.
Penulis                 : Dina Puspita
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.9
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...