Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan Peletak Dasar Mazhab Cinta
Rabiah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia adalah ibu dari para sufi besar setelahnya. Pandangan-pandangan spiritualnya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. Rabiatul Adawiyah ahli ibadah perempuan yang kerap menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabiah jatuh tak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). Rabiah pernah ditanya kapan seorang hamba dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Ia mengatakan, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.”. Di tengah luapan rindunya yang tak terkendali, Rabiah pernah melontarkan kalimat ini dalam munajatnya, “Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?”
Rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini:
Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.//
Atau mereka menempati surga, lalu mendapatkan istana dan meminum air Salsabila//
Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.
Sumber :
https://islam.nu.or.id/post/read/116317/rabiah-al-adawiyah--sufi-perempuan-peletak-dasar-mazhab-cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar