Sayyidah Nafisah: Wanita Salehah yang Menikah atas Petunjuk Rasulullah
Ia bernama lengkap Sayyidah Nafisah binti Sayyid Hasan al-Anwar ibn Sayyid Zaid al-Ablaj ibn Sayyid Hasan ibn Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saw. Sayyidah Nafisah lahir ketika ayahnya, Sayyid Hasan sedang duduk dalam suatu majelis di Baitullah al-Haram di kota Makkah al-Mukarramah. Saat itu ia sedang mengajarkan manusia tentang ilmu dan keimanan. Sayyidah Nafisah merupakan wanita salehah yang senang menghabiskan waktunya untuk beribadah, membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Bahkan, ia berhasil menghafal Al-Qur’an sejak umurnya masih sangat belia, yaitu umur tujuh tahun. Sebagai wanita yang sangat taat kepada semua yang Allah perintahkan, dan dengan patuh mengikuti semua jejak langkah kakeknya, Sayyidah Nafisah dianugerahi karomah yaitu Menikah atas perintah Rasulullah saw.
Dalam kitab Mursyîduz Zuwar, Syekh Muwaffiquddin menceritakan ihwal ketika Sayyidah Nafisah hendak dilamar oleh seorang laki-laki. Tepat pada usia 16 tahun, banyak laki-laki dari kalangan bangsawan dan ulama yang senang kepadanya dan hendak melamarnya. Hal itu mereka lakukan karena Sayyidah Nafisah merupakan wanita yang sangat baik dalam beragama, sehingga bukan hanya satu dua laki-laki yang hendak melamarnya. Namun harapan para lelaki saat itu tidak mendapatkan respon dari ayahnya, Sayyid Hasan al-Anwar. Perasaan yang sama ternyata juga dirasakan oleh laki-laki yang juga memiliki nasab sama dengannya, Sayyid Ishaq al-Mu’taman bin Sayyid Ja’far Shadiq bin Sayyid Muhammad Baqir bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali bin Sayyid Zainal Abidin bin Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali dan Sayyidah Siti Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saw. Keduanya sama-sama memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah saw. Sayyidah Nafisah melalui jalur Sayyidina Hasan, sedangkan Sayyid Ishaq melalui jalur Sayyidina Husain. Sayyid Ishaq datang melamar Sayyidah Nafisah bersama dengan ayah dan beberapa pembesar Bani Husain lainnya. Sesampainya mereka di rumah Sayyidah Nafisah, mereka disambut dengan hangat dan penuh hormat oleh keluarga Bani Hasan. Pembicaraan ringan dimulai sebelum sejurus kemudian membahas urusan inti tentang maksud dan tujuan melamar Sayyidah Nafisah, namun sayang lamaran itu ditolak.
Setelah lamarannya ditolak, keluarga Sayyid Ishaq pulang ke rumah, harapan bahagia yang mereka inginkan, namun kecewa yang didapatkan. Semuanya pulang, kecuali Sayyid Ishaq. Ia justru pergi menuju Raudlah asy-Syarif di Madinah dan duduk di mihrab kakeknya (Rasulullah saw), kemudian melakukan shalat. Setelah menyampaikan keluh kesah dan kebingungan kepada Rasulullah saw, Sayyid Ishaq pulang ke rumahnya dengan hati sedih dan perasaan kecewa. Namun pagi hari berikutnya, ternyata Sayyid Hasan ayah Sayyidah Nafisah, datang ke rumahnya dengan membawa kabar gembira akan melangsungkan akad antara Sayyid Ishaq dan putrinya Sayyidah Nafisah saat itu juga di rumahnya. Hati yang awalnya dipenuhi dengan kesedihan berubah menjadi bahagia tiada tara. Ia langsung menyampaikan berita gembira itu kepada keluarganya dan segera datang ke rumah Sayyidah Nafisah untuk melangsungkan akad. Setelah keduanya berkumpul disertai oleh keluarga besar masing-masing, sayyid Hasan bercerita, pada malam hari ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw dengan wajah yang sangat tampan. Rasulullah saw nmenyampaikan salam kepadanya, kemudian berkata:
يَا حَسَنُ، زَوِّجْ نَفِيْسَةَ ابْنَتِكَ إِسْحَقَ المُؤْتَمَنَّ
Artinya, “Wahai Hasan, nikahkan Nafisah putrimu dengan Ishaq yang dipercaya."
Setelah itu, Sayyid Ishaq kemudian dinikahkan dengan Sayyidah Nafisah atas restu dan perintah Rasulullah. Akad itu terjadi pada Jumat pertama Rajab 161 H.
Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/sayyidah-nafisah-wanita-salehah-yang-menikah-atas-petunjuk-rasulullah-Y6a4M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar