Sabtu, 25 Februari 2023

Ayo Mondok : Cerita Pendek | Kemuslimahan Berkarya

Ayo Mondok!

oleh Natasya Syifadela Ardafa

Halo perkenalkan, aku Fia. Tidak perlu tanya nama lengkapku karena aku tidak akan memberikan nama lengkapku, menurutku itu privasi. Aku adalah seorang anak kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan lulus. Oh ralat, aku dari MA bukan SMA. Oke aku kasih tau buat yang belum tahu, MA adalah Madrasah Aliyah, ia setingkat dengan SMA hanya versi islamnya saja. Aku tau, kalian yang membaca ini pasti mengira aku orangnya galak, judes, sombong, dan tidak punya teman. Selamat, kalian tertipu. Ini hanya permulaan dan ketika masuk ke dalam inti cerita aku yakin kalian akan terbuai dengan caraku dalam bercerita. Aku akan bercerita dan cerita ini bermula saat detikdetik menjelang kelulusanku di Sekolah Dasar. 

Saat itu, aku duduk di bangku kelas 6 SD. Sebelumnya aku adalah murid pindahan dari suatu kota di Jawa Timur. Namun pekerjaan ayahku mengharuskan sekeluargaku pindah ke suatu kota di Jawa Tengah. Awalnya aku tidak suka, karena aku tidak memiliki teman di sini tetapi seiring berjalannya waktu aku memiliki banyak sahabat, kita adalah 6 sahabat yang tak terpisahkan. Mereka sering sekali main ke rumahku dan hal itu membuatku senang. Kita juga berjanji akan bareng-bareng terus sampai kuliah. Aku bahkan sudah bilang ke orangtuaku akan hal itu. Orangtuaku juga menyetujui hal tersebut, tentunya dengan catatan apabila nilaiku masuk ke sekolah tersebut. Persetujuan orangtuaku ternyata hanya omongan belaka. Nyatanya setelah pengumuman kelulusan aku di daftarkan di suatu pondok di Jawa Barat dan diterima. Kala itu aku hanya pasrah dan menjalani dengan setengah hati. Tiga bulan pertama aku hanya bisa menangis, minta pindah. 

Setahun sudah kujalankan dengan “mondok” di Jawa Barat. Orangtuaku ternyata mengingat janjinya, apabila setahun aku belum betah maka aku akan dipulangkan. Awalnya aku senang, namun ternyata aku sudah terlanjur nyaman. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan sampai akhir. Tak disangka, orangtuaku memberikan janji bahwa apabila aku berhasil bertahan sampai lulus menengah atas maka aku akan diajak umroh. Tentu saja aku senang, namun aku juga tidak mau terlalu berharap banyak. Seperti yang kalian sudah baca, bahwa orangtuaku sempat membohongiku. 

Saat liburan, seperti biasa aku akan dijemput dan berlibur di rumah. Suatu saat aku whatsapp salah satu sahabatku di sekolah dasar. Aku mengajaknya main dan ia mengiyakan ajakanku. Ketika besoknya aku ke rumahnya untuk “nyamper” main, tak disangka ibunya menyambutku hangat dan tiba-tiba bercerita sambal menangis. Beliau bercerita bahwa semenjak lulus sekolah dasar, temanku yang bernama Lia ini menjadi nakal, dalam artian suka membantah orangtuanya, sering main dan pulang malam, menuntut banyak hal seperti handphone keluaran terbaru, barang branded, dan lain sebagainya. Beliau memohon padauk untuk membujuk anaknya agar masuk pondok. Disitu aku hanya bisa menenangkan dan hanya bisa berkata bahwa aku akan mencoba membujuk Lia. Setelah sesi cerita tersebut habis, ternyata Lia belum bangun, alhasil aku tidak jadi main dan pulang dengan rasa bersyukur. Ternyata di pondok tidak seburuk itu, aku seharusnya berterima kasih pada orangtuaku yang memaksaku mondok, ya walaupun awalnya terpaksa. Nyatanya di pondok tak seburuk itu, di pondok sangat menyenangkan. 

Pada akhirnya aku berhasil bertahan di pondok hingga 6 tahun, alias lulus sampai menengah atas. Omongan orangtuaku yang akan mengajakku umroh sungguh terjadi, padahal aku sudah lupa. Aku sangat senang saat diberitahukan hal tersebut. Karena umroh tersebut sekaligus ke Turki, jadi senengnya double deh. Pada intinya, kalian semua jangan membantah perintah orangtua ya, selama hal tersebut adalah hal positif. Aku yakin orangtua teman-teman juga tahu apa yang terbaik untuk anaknya. 

Tamat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...