Senin, 11 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

 Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim AS.

oleh: Dina Puspita

Siti Hajar dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik, mulia, dan juga penuh kesabaran. Selain itu, Siti Hajar juga dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, dan tak pernah mengeluh serta pantang menyerah dalam berbuat kebaikan. Siti Hajar pada awalnya merupakan budak yang membantu Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Beliau didatangkan dari tanah Kanan untuk menemani Nabi Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah.

Pada saat itu, Siti Sarah belum juga diberi keturunan sementara usianya terus bertambah. Rasa cintanya kepada sang suami membuat dirinya berpikir untuk memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan.Maka, ia pun meminta Siti Hajar untuk menikah dengan Nabi Ibrahim AS. Dan ia pun berharap pernikahan itu bisa mendatangkan keturunan.

Nabi Ibrahim kemudian memenuhi permintaan Siti Sarah untuk menikah lagi, dan mempersunting Siti Hajar.

Setelah menikah, Siti Hajar kemudian hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.Kelahiran Ismail ternyata membuat Siti Sarah merasa cemburu. Karena rasa cemburu itu, Siti Sarah pun berjanji tak mau tinggal dengan Siti Hajar dan anaknya dalam satu atap.Imam al Tsalabi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa Siti Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.

Pada waktu itu Makkah sangatlah tandus, Tidak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Di sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan, At-Tabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya.

Semakin jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan mengatakan "Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini?"."Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?". "Benar" jawab Ibrahim. "Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami" kata Siti Hajar. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memandang semua wilayah di area lembah yang gersang dan panas tersebut. Namun beliau masih percaya dan yakin atas ucapan yang disampaikan sang suami, bahwa kekuasaan Allah adalah keniscayaan. Allah selalu menolong hamba-Nya yang sedang dilanda kesusahan. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya atas janji Allah yang disampaikan oleh sang suami.

Waktu perlahan berlalu, tangisan Ismail mulai terdengar, menjadi sebuah pertanda bahwa ia mulai kehausan. Setelah itu, beliau pun berkeliling mencari air. Kakinya melangkah dari bukit Shafa ke Marwa, dan sebaliknya. Ia berjalan bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Namun sayang, usahanya sia-sia. Beliau kemudian kembali menemui sang putra dan khawatir jika putranya tidak bisa bertahan. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan, beliau memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang putra.

Setelah itu, Allah kemudian memberikan mukjizat-Nya Kaki Ismail mulai bergerak-gerak, tumitnya dihentak-hentakkan di tanah yang gersang, beliau lalu memandangi putra yang dikasihaninya, dan menganggap perilaku putranya itu masih sebuah kewajaran.Namun tanpa diduga, air begitu derasnya mengucur dari jejak hentakan kaki Ismail. Tanpa pikir panjang, belaiu  pun memberi minuman Ismail dengan air itu dan juga mengambilnya untuk dirinya sendiri. Sumber mata air itu kini dikenal sebagai mata air Zamzam. Air itulah yang membantu Siti Hajar bertahan di lembah gersang.


Kisah perjuangan Siti Hajar ini memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa sebagai seorang muslimah harus kuat, sabar, tegar, dan tak mudah putus asa meski kesulitan bertubi-tubuh sedang menimpanya.



INFO EBOOK
Judul                    : Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibarahim AS.
Penulis                 : Dina Puspita
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.9
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Selasa, 22 Desember 2020

Kemuslimahan Berkarya

Sayyidah Khadijah, Sang Ummul Mukminin

oleh: Diyah Herawati

Sayyidah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al Quraisyiah al Asadiyah, suri tauladan untuk wanita muslimah lantaran keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Keturunan bangsawan Quraisy ini merupakan wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah SAW. Di masa Rasulullah SAW. belum dikenal dan memiliki banyak pengikut, dan tentu saja sebelum Rasulullah menjadi pemimpin negara yang terkemuka. Wanita pertama yang menerima ajaran Islam ini juga merupakan orang yang paling berjasa dalam membantu lancarnya dakwah sekaligus penyemangat Rasulullah SAW. dalam menghadapi ujian-ujian berat ketika menyebarkan ajaran yang haq.

Begitu banyak kisah tentang peran beliau dalam membantu Rasulullah SAW. menyebarkan ajaran Allah SWT. Di antara kisah heroik itu adalah ketika terjadi pemboikotan dan pengasingan Bani Hasyim ke pinggiran Mekah oleh orang-orang Quraisy. Pemboikotan dan pengasingan ini tentu saja sangat menyengsarakan dan membuat Bani Hasyim begitu menderita. Tidak boleh ada kegiatan transaksi yang dilakukan dengan Bani Hasyim, sehingga yang bisa dikonsumsi oleh Bani Hasyim hanya dedaunan. Hal ini pun berlangsung selama tiga tahun, tentu bukanlah waktu yang singkat. Dalam kesengsaraan tersebut, Sayyidah Khadijah yang dulunya wanita kaya dan bukan dari Bani Hasyim tetap setia menemani Rasulullah. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah sangat setia dengan beliau dan senantiasa mengenang beliau di masa hidup Rasulullah SAW. Selain kisah tersebut, tentu saja ada keutamaan lain yang dimiliki oleh Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah ini.

Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh istri pertama Rasulullah yakni beliau dijuluki sebagai wanita terbaik oleh Rasulullah SAW. Hal ini selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Hadis itu berbunyi :
"Sebaik-baik perempuan yang menghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asyiah (istri Fir’aun)."

Tidak diragukan lagi beliau adalah wanita yang seharusnya diidolakan dan dijadikan suri tauladan bagi para wanita muslimah. Predikat ‘terbaik’ yang beliau sandang ini disampaikan langsung oleh kekasih Allah SWT, Rasululloh SAW. Selain memiliki predikat wanita terbaik, beliau juga wanita yang Allah pun menitip salam untuk beliau melalui malaikat Jibril. Hal ini tertuang dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA. :
“Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW. sambil mengatakan pada beliau “Wahai Rasulullah saw., ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no. 3820. Muslim no. 2432).

Keutamaan selanjutnya bahwa Rasulullah SAW menganggap mencintai beliau adalah sebuah pemberian Allah SWT yang sangat indah. Kesabaran dan keteduhan Khadijah dalam menemani Rasulullah berjuang menyebarkan ajaran Islam sangat dikenang oleh Rasulullah SAW. Beliau mendapatkan kedudukan yang begitu istimewa di sisi Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah sering menyebut nama beliau, memuliakan teman-teman beliau sepeningalnya dengan menyembelih seekor kambing dan membagikan daging itu kepada mereka, bahkan Rasulullah pernah bercerita kepada Aisyah tentang kedudukan Khadijah di hati Rasulullah SAW.
“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no. 2435).

Sayyidah Siti Khadijah, juga sosok saudagar muslimah yang cerdas dan sukses, bukan hanya menjadi penyemangat utama di kala sang Nabi lelah dan gelisah, atau pun berperan sebagai sahabat berbagi suka dan duka, melainkan juga merelakan seluruh hartanya habis demi membiayai kebutuhan dakwah agama.


Dari kisah ummul mukminin tersebut setidaknya menggambarkan kenyataan bahwa sejarah awal Islam tidaklah sepi dari keterlibatan kaum wanita sebagai pelaku utama yang tak kalah penting dibanding kaum laki-laki. Mereka menjalankan peran tugasnya menjadi seorang wanita muslimah, istri dan ibu mendidik anak-anaknya, namun juga aktif memikirkan kepentingan publik. Memang para wanita punya kodrat yang berbeda dengan laki-laki. Wanita setelah menikah mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan rumah tangga yakni mengurus suami ,mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak-anak. Dari didikan Khadijah melahirkan garis keturunan Siti Fatimah yang suci. Tidak pernah dijadikan alasan oleh agama untuk memandang rendah kontribusi seorang wanita baik di dalam dan di luar “urusan rumah”, apalagi sampai mencederai prinsip kesetaraan. Islam juga sangat memuliakan wanita, tidak boleh disakiti dan dizalimi sebagaimana sabda Nabi SAW, "Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita," dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku."

Semoga kita para wanita muslimah dapat meneladani nur yang dipancarkan oleh beliau. Keteladanannya sebagai seorang wanita muslimah, istri Rasulullah SAW. dan seorang ummul mukminin seyogyanya ada yang tertanam dalam diri kita meski hanya sepersekian persen dari keseluruhan akhlak beliau. Dari rahim seorang wanita yang sholehah akan tumbuh benih-benih generasi pemimpin bangsa adil dan cerdas.

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).



INFO EBOOK
Judul                    : Sayyidah Khadijah, Sang Ummul Mukminin
Penulis                 : Diyah Herawati
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.8 [spesial Hari Ibu]
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Senin, 30 November 2020

Kemuslimahan Berkarya

BUKTI CINTA SEJATI
oleh: Endang Purwati

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu Yang abadi padaku”
~ Syair Robiah Al Adawiyah ~

Pada 713 M atau 95 H, di kota Basrah, Irak, telah lahir seorang perempuan bernama Rabiyah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Putri keempat dari keluarga miskin di Basrah, Irak. Ia tumbuh sebatang kara karena kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Seluruh saudaranya meninggal akibat wabah kelaparan yang melanda Basrah. Robiyah merupakan sorang sufi perempuan termasyhur dari Basrah, yang menyerahkan hidupnya hanya untuk mencintai Tuhan-nya, sehingga tidak bisa menemukan cinta yang lain karena kesempurnaan cintanya telah ditemukan dalam Tuhan. Robiyah Al Adawiyah dikenal dalam keutamaan sosial (muamalah) maupun dalam pencapaianya menuju Allah (ma’rifat).

Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna. Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh.

Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah). Kita kemudian mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun kembali.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65).

Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang lain. Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.” Selain itu rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini: Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.

Rabiyatul Adawiyah dikenal dengan keikhlasannya dalam beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.

Al-Zabidi dalam Syarh Ihya ‘Ulumuddin menceritakan kisah tentang Sufyan Al-Tsauri dan Rabi’ah. Al-Tsauri bertanya perihal hakikat iman Rabi’ah,“Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka dan menginginkan surga seolah aku menjadi buruh tak patuh. "Jika takut majikan ia akan bekerja, jika dibayar ia baru akan bekerja.’ Aku menyembah-Nya karena cinta dan rinduku pada-Nya"

Tentang ikhlas ini ada sebuah kisah, bahwa suatu siang Rabiah al-Adawiyah tengah berjalan di Kota Baghdad sambil menenteng air dan memegangi obor di tangan kirinya. Seseorang pun bertanya kepadanya hendak dikemanakan air dan obor tersebut? Rabiah al-Adawiyah pun menjawab:  “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air agar  mereka ikhlas dalam menjaga hati. Hamba Allah akan belajar untuk melihat-Nya tanpa harapan pahala atau takut akan siksa. Sebagaimana terjadi sekarang, jika engkau menarik harapan akan pahala atau takut akan siksa, tak akan ada seorang pun yang beribadah atau taat.”

Allah berfirman dalam Alquran surah ar-Ra’d ayat 28-29 berbunyi :



Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Keikhlasan ibadah Rabiah al Adawiyah adalah bukti bahwa jiwanya hanya ada Cinta dan Rindu kepada Allah semata tanpa tendensi yang lainya. Rabiah sudah tidak takut dan tidak merisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Baginya, mencintai, menjalankan perintah dan mendekat kepada Allah adalah segalanya. Meniru keikhlasan ibadah layaknya Rabiah al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita.

Dari kisah tersebut seharusnya menggugah hati kita untuk lebih mendekat dan terus ibadah kepada-Nya tanpa mengharap suatu imbalan apapun. Beribadahlah dengan hati yang ikhlas.


INFO EBOOK
Judul                    : Bukti Cinta Sejati
Penulis                 : Endang Purwati
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.7
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.



Jumat, 30 Oktober 2020

Kemuslimahan Berkarya

HATI SELEMBUT BULU MERPATI
oleh: Dina Puspita

Sinar matahari menyapu lembut wajah ini
Teringat semalam cerita yang dikisahi
Begitu hangat menjalar ke hati ini
Dalam benak bagaimana bisa aku menjadi seperti
sosok wanita ini

Tangannya penuh dengan kelembutan
Tuturnya penuh dengan kehati-hatian
Aku mencair
Bagai air
Bukan karena kesedihan
Melainkan rasa kekaguman

Hati selembut bulu merpati
Kodratmu sebagai wanita
Sungguh membuatku terinspirasi
Bertanyalah pada burung-burung
Atau desiran angin yang berhembus pelan
Ataupun gemercik air yang dihempas oleh ombak lautan
Aku yakin mereka akan membenarkan

Engkau rela mengorbankan harta dan jiwamu
Engkaulah sosok yang paling tegar dan setia
Keshalihan mu membuat engkau menjadi ibu
Untuk kami muslimah akhir zaman
Zikirku akan selalu mengejarmu
Ya ummi Khadijah


Puisi tersebut menggambarkan bagaimana kita sebagai seorang muslimah dapat mencontoh sifat dan perilaku Ummul Mu'minin Siti Khadijah r.a. yang begitu kuat, setia, cerdas, sholehah, dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Beliau sungguh wanita yang mulia, sosok yang begitu tegar dalam menjalani hidup, beliau lah sosok yang setia menemani semasa Rasulullah berdakwah, mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk kaum muslimin. Sebagai muslimah akhir zaman kita hendaknya selalu belajar bagaimana menjadi sosok wanita yang sholehah, bukan hanya cerdas dalam intelektual tetapi juga akhlak.

Rasulullah SAW. juga pernah bersabda jika dunia merupakan tempat segala kesenangan, akan tetapi kesenangan dan perhiasan yang paling utama di dunia ini adalah wanita melebihi dari segala kesenangan yang lain yakni menjadi muslimah yang baik.

“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” [HR. Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad].



INFO EBOOK
Judul                    : Hati Selembut Bulu Merpati
Penulis                 : Dina Puspita
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.6
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

Senin, 28 September 2020

Kemuslimahan Berkarya

TENTANG WAKTU
oleh: Lutvi Endriyana
 

Tentang waktu
Kisah ini tentang waktu
Jatuh bangun menunggu
Hujan, senja, dan malam menjadi saksi bisu

Untukmu yang hebat
Semoga selalu dikuatkan
Duhai wanita akhir zaman

"Bangkitlah, nanti mahkotamu jatuh", katanya
Pelangi memang tak selalu hadir setelah hujan
Tapi yakinlah
Bahagiamu nampak diujung senja

Duhai makhluk istimewa Tuhan
Melangkahlah
Emansipasi ada pada genggaman
Kepakkan sayap tuk mengangkasa
Menggapai asa mencapai impian

Selagi kaki masih mampu
Jangan terlena sampai membuang waktu
Hanya tuk sekedar menunggu
Karena cerminan dirimu
kan datang pada waktu
Yang tlah tertulis jelas

Duhai sahabatku
Madrasah pertama tuk putra putrimu
Surga berada pada telapak kakimu
Wanita wanita tangguh, yang setia menanti separuh jiwamu


Puisi ini menceritakan tentang waktu, dimana pada jaman sekarang kebanyakan wanita akan terlena dan hanya sekedar menunggu. Menunggu pujaan hati, sang jodoh yang telah tertuliskan. Padahal akan lebih baik jika tidak hanya sekedar menunggu, halu, dan mengharapkan yang paling baik menurut dirimu. Apalagi wanita di jaman sekarang memiliki peran yang setara dengan laki-laki, dimana wanita bebas melakukan sesuatu asalkan masih pada kodratnya. Maka belajarlah dengan sungguh-sungguh, kejarlah mimpi, dan selalu perbaiki diri. Namun jangan berorientasi karena dia, tetapi karena Allah SWT. ‌Sebaiknya pergunakan waktu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, jika istilah "memantaskan" terdengar terlalu tinggi untuk digapai, agar kelak mampu menjadi isteri dan ibu yang baik dan cerdas, karena Allah akan memberikan yang terbaik, di waktu yang tepat versi-Nya, bukan versi-mu.

‌Seperti telah dijelaskan dalam QS An-Nur ayat 26 :
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."



INFO EBOOK
Judul                    : Tentang Waktu
Penulis                 : Lutvi Endriyana
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.5
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

Senin, 10 Agustus 2020

Kemuslimahan Berkarya

DALAM BALUTAN DO'A MUSLIMAH
oleh: Resli April Liani

Malam...
Adalah gelap yang tak pernah abadi
Sepi, sunyi, dan khusyuk
Tepat untuk melantunkan kata
Kepada Yang Maha Kuasa

Kalimat demi kalimat
Meluruh bersamaan dengan air mata
Kian lama kian membasahi kain putihnya

Apa yang ia pinta?
Kecantikan?
Bukan, kataku
Tapi ketundukkan hati dan pandangan
Untuk menempatkannya pada kemuliaan

Apa yang ia mohonkan?
Adalah cahaya kesabaran
Untuk menjadi kilaunya
Dan butiran tasbih menjadi nilai akhlaknya

Mudahkan titianku menuju ridha-Mu
Ungkapnya lirih
Seraya tersendu
Menenggelamkan wajah dalam sujud-Mu


Dalam Balutan Do'a Muslimah merupakan puisi yang bercerita bahwa tengah malam (tahajud) merupakan waktu yang tepat untuk berdo'a. Suasana yang sepi dan sunyi membuat hati akan lebih tenang, pikiran fokus serta lebih jernih sehingga do'a yang dipanjatkan lebih khusyuk kepada Allah SWT.

Khusyuknya do'a yang dipanjatkan akan membuat hati mudah tersentuh sampai-sampai menangis seiring dengan permohonan ampun yang dipanjatkan. Basahnya mukena menjadi saksi bisu betapa tulusnya seorang muslimah berdo'a.

Dalam do'a seorang muslimah, bukan lah kecantikan yang ia harapkan, bukan wajah ayu yang didambakan dan bahkan bukan gaun cantik yang ia mintakan, melainkan lantunan rasa syukur dan sabar yang ia inginkan. Dalam do'a muslimah pula ada sebait keinginan untuk dimudahkan langkahnya dalam menjalankan tugas-tugasnya menjadi seorang muslimah. Melalui sujud dan butiran tasbih di tahajudnya ia ditinggikan derajatnya sebagai seorang muslimah dihadapan Allah SWT.



INFO EBOOK
Judul                    : Dalam Balutan Do'a Muslimah
Penulis                 : Resli April Liani
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.4
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

Senin, 13 Juli 2020

Kemuslimahan Berkarya

RESAH RASA
oleh: Annisa Nurul Hakim
Sedih bila dirasa
Belenggu zaman membabi buta
Mendoktrin muda mudi kaum hawa
Makna "cantik" menuai pro kontra

"Semua wanita cantik" bagai penenang sesaat
Namun kita sadar
Mulut pandai berkata,
seringkali tak sejalan dengan realita

Dunia maya kian mengusik rasa
Menanam insecure dalam jiwa

Kaum hawa dirundung dilema
Fokusnya terpecah
Antara mengukir prestasi atau alis di wajah

Kaum kapitalis mengambil peran
Outer beauty dinomorsatukan
Uang habis tuk beli produk kecantikan
Bersolek telah jadi kebutuhan
Prestasi dinomorduakan
Potensi kurang dilirik
Ruang berkarya kian menyempit

Kini hidup bagai fatamorgana
Wajah nan ayu dengan senyum palsu
Berdalih inilah bahagia
Tanpa sadar hanya menambah luka



Resah Rasa merupakan puisi yang bercerita tentang keresahan yang dialami para perempuan masa kini. Apabila kita menyadarinya, kita akan merasa sedih. Universalitas zaman globalisasi membawa dampak yang cukup signifikan. Salah satunya mendoktrin kaum muda perempuan kaitannya dengan standart kecantikan. Sehingga, menimbulkan pro kontra tentang makna dari kecantikan itu sendiri.

Ungkapan "semua wanita cantik" seperti penenang para perempuan agar menerima diri sendiri apa adanya. Namun, kita semua tahu bahwa realisasi dari ungkapan tersebut sangat sulit. Mulut kita memang bisa dengan mudah mengucapkan ungkapan itu, tapi seringkali antara ucapan dengan realita yang terjadi tidak sinkron.

Dunia maya menambah terusiknya perasaan perempuan. Postingan-postingan yang ada membuat para perempuan kurang percaya diri (insecure) karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Hal tersebut menjadikan perempuan dilema. Fokusnya menjadi terpecah, antara dia harus fokus menjadi perempuan yang berprestasi atau perempuan yang sibuk berdandan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa media memiliki peran besar dalam mensugesti para perempuan dengan membuat kecantikan luar seakan dinomorsatukan. Hal ini dilakukan agar para perempuan menghabiskan uangnya untuk membeli produk kecantikan yang dijual. Lama-kelamaan berdandan menjadi suatu kebutuhan. Tentu saja akan banyak menguntungkan pihak tertentu, terutama negara kapitalis. Prestasi bukan prioritas utama, potensi kurang dilihat, dan ruang berkarya semakin sempit.

Oleh karena itu, kehidupan bagai fatamorgana seakan penuh dengan ketidaknyataan. Wajah cantik dengan senyuman palsu terus terpajang di dunia maya. Mereka tidak jujur dengan perasaan yang sedang dialami dan beralasan bahwa bahagianya mereka seperti itu. Mereka tidak sadar bahwa hal yang mereka lakukan hanya akan menambah luka pada dirinya.


INFO EBOOK
Judul                    : Resah Rasa
Penulis                 : Annisa Nurul Hakim
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.3
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...