Sabtu, 12 Juni 2021

SaLam Ilmu

 

19 Adab Perempuan terhadap Dirinya Sendiri Menurut Imam al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Diin dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, hal. 442-443) menjelaskan tentang sembilan belas adab perempuan terhadap dirinya sendiri meliputi :

1.         Pertama, berorientasi rumah. Perempuan baik selalu memikirkan urusan domestik dalam rumah tangganya sesibuk apapun aktivitasnya di sektor publik.

2.         Kedua, duduk di dalam rumah dan sebaiknya tidak memanjat-manjat dinding atau dengan menaiki tangga untuk berbicara dengan tetangga.

3.         Ketiga, tidak masuk ke rumah tetangga kecuali keadaan memaksa. Hal ini karena di rumah tetangga itu bisa jadi ada laki-laki yang bukan mahrom.

4.         Keempat, menyenangkan suami bila dipandang. Apabila perempuan merawat dirinya dengan baik serta bertutur kata santun maka suaminya akan senang dan betah berada di rumah.

5.         Kelima, menjaga kehormatan suami bila ditinggal pergi.

6.         Keenam, tidak meninggalkan rumah serta apabila keluar hendaknya tidak mencari tempat yang sepi. Hal ini agar lebih terjamin keamanan dan keselamatannya dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, atau buruk secara moral ataupun hukum. 

7.         Ketujuh, menjaga diri dalam memenuhi kebutuhan tetapi menghindari orang-orang yang mengenalnya demi kebaikan diri sendiri.

8.         Kedelapan, mengurus rumah.

9.         Kesembilan, menunaikan shalat dan puasa. Ibadah kepada Allah baik berupa shalat maupun puasa harus dilaksanakan sesibuk apapun.

10.      Kesepuluh, mengoreksi diri sendiri.

11.      Kesebelas, memikirkan agamanya.

12.      Keduabelas, selalu diam. Diam disini bisa dimaknai sebagai sikap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan baik di dalam rumah atau di luar.

13.      Ketiga belas, menundukkan pandangan matanya.

14.      Keempat belas, merasa diawasi Tuhan.

15.      Kelima belas, banyak dzikir kepada Allah SWT.

16.      Keenam belas, taat kepada suami.

17.      Ketujuh belas, menganjurkan suami mencari rezeki yang halal dan tidak menuntutnya berpenghasilan melebihi batas pencapaiannya.

18.      Kedelapan belas, menampakkan sikap malu dan meminimalisasi kata-kata yang tak sopan, bersabar dan selalu bersyukur, bertindak sebagai teladan, menerima keadaan dan kekuatan diri sendiri.

19.      Kesembilan belas, jika seorang teman suami minta diizinkan masuk rumah, sementara sang suami tidak ada, sebaiknya tidak usah dihiraukan dan jangan membiasakan berbicara dengannya, demi menghindari rasa cemburu diri sendiri dan suami.

 

Sumber : 

https://islam.nu.or.id/post/read/107488/19-adab-perempuan-terhadap-dirinya-sendiri-menurut-imam-al-ghazali


Kamis, 20 Mei 2021

PENGUMUMAN HASIL OPEN RECRUITMENT PENGURUS KMNU UNSOED

 

HASIL OPEN RECRUITMENT 

PENGURUS KMNU UNSOED PERIODE 2021/2022



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hallo, seluruh Keluarga Mahasiswa Nahdlathul Ulama Universitas Jendral Soedirman dan Para Pembaca. Bagaimana kabarnya nihh? Semoga sehat selalu dan dapat lindungan dari Allah SWT.  Aamiin ya rabbal ‘alamin 

Terkhusus buat para calon pengurus KMNU UNSOED yang baru, gimana nih perasaan kalian? Pasti juga gak sabar dong menunggu hasil pengumuman setelah melewati proses screening kemarin. Penulis berharap agar kalian semua diterima sesuai dengan Departemen yang di Inginkan.

Berikut Hasilnya....


PENGURUS KMNU UNSOED 2021/2022

KETUA

  • Ichlasul Amal Makarim
WAKIL PUTRA

  • Ali Suratno
WAKIL PUTRI

  • Istiqomah


SEKRETARIS

    Mengelola administrasi yang rapi dan terstruktur, mengelola inventaris, serta menyampaikan informasi kepada pengurus dan anggota.

  • Kadep : Anindha Zulfa Rahmah
  • Staf : Eka Annisa Fitri


BENDAHARA

    Menciptakan manajemen keuangan yang baik dan transparan meliputi perencanaan, penyusunan, pemerataan dan pelaporan anggaran dana.

  • Kadep : Juliana Dewi
  • Staf : Natasya Syifadela Ardafa

KEMUSLIMAHAN

    Wadah pembentukan, pembinaan, dan pengawasan keorganisasian sebagai wahana kaderisasi anggota KMNU Unsoed putri. Tugas dari departemen kemuslimahan untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian serta aktualisasi diri dalam hal kemuslimahan baik itu kepada anggota ataupun masyarakat umum. Program kerja terdiri dari kajian kitab kemuslimahan, KAMUS Online, Kemuslimahan berkarya, SEMUSIK, dan kemuslimahan traveller.

  • Kadep : Annisa Nurul Hakim
  • Staf :

  1. Elfi Rindiana
  2. Tika meilina wanti
  3. Alfiani Khairaummah
  4. Shafira Fitri
  5. Alfinatun Nashihah


KAJIAN

    Mengembangkan daya nalar, wawasan, dan analisis mengenai keagamaan, nasionalisme, dan nilai-nilai edukatif yang mengacu pada ajaran Ahlusunnah WAl Jama'ah AN-Nahdliyyah.

  • Kadep : Ilham Fadhil Nurantho
  • Staf :

  1. Ivo Ragil P.
  2. Wahyu Nur Hakim
  3. Kurnia Uswatun Khasanah
  4. Miftahul Jannah


PSDM

    Mengelola, membimbing, dan mengembangkan bakat dan minat kader.

  • Kadep : Faridatul Ilmi
  • Staf :

  1. Nafa Shifa Tsaniyah
  2. Wiwin Kurniati
  3. Intan Nur Roudhotul Jannah
  4. Heppi Prasetiani


EKONOMI

    Wadah untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya ekonomi yang mandiri. 

  • Kadep : Cantas Raihana
  • Staf : 

  1. Utvi Suci Andini
  2. Umri Qowiyah Banaa Hasanah
  3. Slamet Tulus
  4. Fasya Pingka Diandari


KADERISASI

    Membentuk, mengawasi, dan menguatkan loyalitas kader.

  • Kadep : Afi Zidni Az Zukhruf
  • Staf : 

  1. Alvin Setiawan
  2. Bagus Purwanto
  3. Irham Fauzi
  4. Khairunnisa Khansa
  5. Robbi Ansah
  6. Siva Nahara Ulya


HUMAS

    Menjalin hubungan internal dan eksternal yang lancar, dinamis, dan edukatif.

  • Kadep : Laelatul Mutmainah
  • Staf :  

  1. Sarwendah Nurhikmah
  2. Moh Dzikri Awwaludin Siddik
  3. Mujiburrahman
  4. Ayu Hidayah Tulloh
  5. Elsa Yasinta
  6. Rezza Fauziyah

MEDIA

    Mengelola Sarana Publikasi, Informasi, dan Komunikasi

  • Kadep : Sayla Nada Rahma
  • Staf :

  1. Mushin Qudhori
  2. L. Astazida Rizqiya
  3. Fariza Noviana
  4. Putra Dwi S.


SELAMAT!!!!!
Kepada Para Pengurus KMNU yang baru, Semoga dapat mengemban amanah dengan baik dan dapat membawa KMNU UNSOED ke arah yang lebih baik lagi..

Selasa, 09 Februari 2021

Kemuslimahan Berkarya

Belajar pada Kesederhanaan, Keikhlasan, dan Keberanian Sang Pelipur Lara Rasulullah SAW., Fatimah Az-Zahra

oleh: Annisa Nurul Hakim

Sayyidah Fatimah merupakan putri dari Rasululullah SAW dengan istri pertamanya sang ummul mukminin, Siti Khadijah. Sayyidah Fatimah tidak kalah mulianya dengan sosok Khadijah yang begitu mulia. Ibnu Hajar serta ulama yang lain dalam suatu riwayat menukil bahwasannya orang pertama yang ditemui Rasulullah SAW ketika kembali dari perjalanannya yaitu putrinya Sayyidah Fatimah az-Zahra. Sayyidah Fatimah memang dikenal sebagai putri kesayangan Rasulullah SAW. Karena dialah pelipur lara Rasul. Rasulullah pernah bersabda "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku" (Hlm 116). Sebegitu cintanya beliau pada putrinya hingga orang yang menyusahkan dan mengganggu putrinya sama saja menyusahkan dan mengganggu beliau.

Kesederhanaan putri Rasulullah SAW dapat terlihat dari beberapa penggal kisah singkatnya sebagai berikut.

Disebutkan dalam kitab Hilyah al-Auliya bahwasannya Sayyidah Fatimah tidak memiliki pakaian pantas yang dapat ia kenakan kala tamu datang ke rumahnya. Sehingga, Rasulullah SAW memberikan jubah beliau pada putrinya tersebut untuk menutupi dirinya.

Kisah lain mengenai kesederhanaan Sayyidah Fatimah dapat terlihat dari kisah mas kawin dan acara walimahnya yang diselenggarakan dengan suasana penuh kesederhanaan. Hal ini menjadi bukti lain kezuhudannya.

Selain itu, Sayyidah Fatimah perempuan mulia yang mana hatinya dipenuhi keikhlasan dalam menjalani kesehariannya. Pengorbanannya di rumah dilaluinya dengan hati ikhlas. Beliau menghaluskan gandum dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menggendong anaknya. Kitab Hilyah al-Auliya menyebutkan, "Fatimah, putri Rasul menggiling gandum dengan tangannya hingga bengkak serta bekasnya dapat terlihat di tangannya." Sungguh mulia hati Sayyidah Fatimah. Ia ikhlas bekerja bersamaan dengan mengurus putranya hingga tangan beliau bengkak.

Sayyidah Fatimah juga putri Rasulullah SAW yang pemberani. Keberaniannya ditunjukkan kala ia membela sang ayah di hadapan orang-orang musyrik di Makkah. Serta kedatangannya di medan Perang Uhud untuk mengobati luka Rasulullah SAW merupakan tanda lain keberanian putri Rasul ini.

Dalam kitab Dzakhair al-'Uqba diceritakan kelahiran Sayyidah Fatimah merupakan buah dari Surga. Hadis itu berbunyi, "Demikianlah kelahiran Sayyidah Fatimah dan ketika lahir, beliau langsung bersujud."

Serangkaian kisah singkat di atas membuktikan bahwasannya Sayyidah Fatimah Az-Zahra termasuk dalam perempuan pilihan yang akhlak mulianya perlu kita teladani. Bahkan sejak lahir hingga akhir hayatnya, kehidupan Sayyidah Fatimah dilalui di jalan penghambaan terhadap Allah SWT. Masya Allah. Semoga kita sebagai muslim dan muslimah dapat meneladani dengan bercermin pada kesederhanaan, keikhlasan, serta keberanian putri Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Aamiin ya Robbal 'Alamin

 

Sumber referensi:

https://jatim.nu.or.id/read/belajar-sederhana-dalam-hidup-kepada-perempuan-pilihan-

https://www.nu.or.id/post/read/75227/para-perempuan-teladan



INFO EBOOK
Judul                    : Belajar pada Kesederhanaan, Keikhlasan, dan Keberanian Sang Pelipur Lara Rasulullah SAW., Fatimah Az-Zahra
Penulis                 : Annisa Nurul Hakim
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.11
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Senin, 25 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

Belajar Sabar Dari Sosok Asiyah

oleh: Resli April Liani

Asiyah binti Muzahim, merupakan istri raja Fir’aun yang dijadikan simbol sebagai seorang istri penyabar. Asiyah adalah sosok wanita yang patut diteladani dengan segala keteguhan dan kesabarannya meski telah mendapat perlakuan buruk dari sang suami. Sebagai istri Fir’aun, Asiyah tentu mendapatkan segala kemewahan. Namun, hal tersebut tidak membutakan hatinya. Asiyah tetap menjadi manusia yang selalu percaya pada Allah sebagai Tuhannya. Meski suaminya adalah orang yang kejam dan bengis, Asiyah dikenal sebagai sosok perempuan yang sabar, santun, berbudi pekerti luhur, penyayang, dan penuh keteguhan untuk senantiasa berada di jalan Allah SWT.

Ia dipaksa mengakui bahwa suaminya itu adalah Tuhan. Tetapi karena keimanan yang ada di hati Asiyah, ia tetap menolak hingga rela mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari Fir’aun. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Firaun mengikat istrinya dengan besi sebanyak 4 ikatan, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Jika ia telah meninggalkan Asiyah terbelenggu maka para malikat menaunginya" (HR. Abu Ya’la).

Asiyah juga berhasil membesarkan tokoh kunci dalam takdir hidup Firaun di bawah batang hidung raja zalim itu sendiri hingga dewasa. Musa tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani. Meskipun bukan anak kandungnya, rasa cinta Asiyah tak kurang terhadap Musa. Dia mengkhawatirkan keadaan Musa selayaknya seorang ibu kandung. Dia selalu mendoakan Musa agar bisa mendapatkan kemenangan atas Firaun.

Asiyah tidak hanya telah membuktikan diri sebagai hamba Allah yang baik, namun juga sebagai ibu yang baik dan pengasih. Berkat keimanan beliau yang begitu teguh di tengah singsana kerajaan Fir’aun yang kejam, Asiyah binti Muzahim dijamin masuk surga seperti wanita mulia lainnya yaitu Fatimah binti Rasulullah SAW, istri Nabi Muhammad Khadijah binti Khuwailid, dan Maryam binti Imran.


INFO EBOOK
Judul                    : Belajar Sabar Dari Sosok Asiyah
Penulis                 : Resli April Liani
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.10
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

Senin, 11 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

 Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim AS.

oleh: Dina Puspita

Siti Hajar dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik, mulia, dan juga penuh kesabaran. Selain itu, Siti Hajar juga dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, dan tak pernah mengeluh serta pantang menyerah dalam berbuat kebaikan. Siti Hajar pada awalnya merupakan budak yang membantu Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Beliau didatangkan dari tanah Kanan untuk menemani Nabi Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah.

Pada saat itu, Siti Sarah belum juga diberi keturunan sementara usianya terus bertambah. Rasa cintanya kepada sang suami membuat dirinya berpikir untuk memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan.Maka, ia pun meminta Siti Hajar untuk menikah dengan Nabi Ibrahim AS. Dan ia pun berharap pernikahan itu bisa mendatangkan keturunan.

Nabi Ibrahim kemudian memenuhi permintaan Siti Sarah untuk menikah lagi, dan mempersunting Siti Hajar.

Setelah menikah, Siti Hajar kemudian hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.Kelahiran Ismail ternyata membuat Siti Sarah merasa cemburu. Karena rasa cemburu itu, Siti Sarah pun berjanji tak mau tinggal dengan Siti Hajar dan anaknya dalam satu atap.Imam al Tsalabi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa Siti Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.

Pada waktu itu Makkah sangatlah tandus, Tidak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Di sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan, At-Tabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya.

Semakin jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan mengatakan "Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini?"."Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?". "Benar" jawab Ibrahim. "Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami" kata Siti Hajar. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memandang semua wilayah di area lembah yang gersang dan panas tersebut. Namun beliau masih percaya dan yakin atas ucapan yang disampaikan sang suami, bahwa kekuasaan Allah adalah keniscayaan. Allah selalu menolong hamba-Nya yang sedang dilanda kesusahan. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya atas janji Allah yang disampaikan oleh sang suami.

Waktu perlahan berlalu, tangisan Ismail mulai terdengar, menjadi sebuah pertanda bahwa ia mulai kehausan. Setelah itu, beliau pun berkeliling mencari air. Kakinya melangkah dari bukit Shafa ke Marwa, dan sebaliknya. Ia berjalan bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Namun sayang, usahanya sia-sia. Beliau kemudian kembali menemui sang putra dan khawatir jika putranya tidak bisa bertahan. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan, beliau memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang putra.

Setelah itu, Allah kemudian memberikan mukjizat-Nya Kaki Ismail mulai bergerak-gerak, tumitnya dihentak-hentakkan di tanah yang gersang, beliau lalu memandangi putra yang dikasihaninya, dan menganggap perilaku putranya itu masih sebuah kewajaran.Namun tanpa diduga, air begitu derasnya mengucur dari jejak hentakan kaki Ismail. Tanpa pikir panjang, belaiu  pun memberi minuman Ismail dengan air itu dan juga mengambilnya untuk dirinya sendiri. Sumber mata air itu kini dikenal sebagai mata air Zamzam. Air itulah yang membantu Siti Hajar bertahan di lembah gersang.


Kisah perjuangan Siti Hajar ini memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa sebagai seorang muslimah harus kuat, sabar, tegar, dan tak mudah putus asa meski kesulitan bertubi-tubuh sedang menimpanya.



INFO EBOOK
Judul                    : Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibarahim AS.
Penulis                 : Dina Puspita
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.9
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Selasa, 22 Desember 2020

Kemuslimahan Berkarya

Sayyidah Khadijah, Sang Ummul Mukminin

oleh: Diyah Herawati

Sayyidah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al Quraisyiah al Asadiyah, suri tauladan untuk wanita muslimah lantaran keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Keturunan bangsawan Quraisy ini merupakan wanita pertama yang dinikahi oleh Rasulullah SAW. Di masa Rasulullah SAW. belum dikenal dan memiliki banyak pengikut, dan tentu saja sebelum Rasulullah menjadi pemimpin negara yang terkemuka. Wanita pertama yang menerima ajaran Islam ini juga merupakan orang yang paling berjasa dalam membantu lancarnya dakwah sekaligus penyemangat Rasulullah SAW. dalam menghadapi ujian-ujian berat ketika menyebarkan ajaran yang haq.

Begitu banyak kisah tentang peran beliau dalam membantu Rasulullah SAW. menyebarkan ajaran Allah SWT. Di antara kisah heroik itu adalah ketika terjadi pemboikotan dan pengasingan Bani Hasyim ke pinggiran Mekah oleh orang-orang Quraisy. Pemboikotan dan pengasingan ini tentu saja sangat menyengsarakan dan membuat Bani Hasyim begitu menderita. Tidak boleh ada kegiatan transaksi yang dilakukan dengan Bani Hasyim, sehingga yang bisa dikonsumsi oleh Bani Hasyim hanya dedaunan. Hal ini pun berlangsung selama tiga tahun, tentu bukanlah waktu yang singkat. Dalam kesengsaraan tersebut, Sayyidah Khadijah yang dulunya wanita kaya dan bukan dari Bani Hasyim tetap setia menemani Rasulullah. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah sangat setia dengan beliau dan senantiasa mengenang beliau di masa hidup Rasulullah SAW. Selain kisah tersebut, tentu saja ada keutamaan lain yang dimiliki oleh Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah ini.

Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh istri pertama Rasulullah yakni beliau dijuluki sebagai wanita terbaik oleh Rasulullah SAW. Hal ini selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Hadis itu berbunyi :
"Sebaik-baik perempuan yang menghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asyiah (istri Fir’aun)."

Tidak diragukan lagi beliau adalah wanita yang seharusnya diidolakan dan dijadikan suri tauladan bagi para wanita muslimah. Predikat ‘terbaik’ yang beliau sandang ini disampaikan langsung oleh kekasih Allah SWT, Rasululloh SAW. Selain memiliki predikat wanita terbaik, beliau juga wanita yang Allah pun menitip salam untuk beliau melalui malaikat Jibril. Hal ini tertuang dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA. :
“Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW. sambil mengatakan pada beliau “Wahai Rasulullah saw., ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no. 3820. Muslim no. 2432).

Keutamaan selanjutnya bahwa Rasulullah SAW menganggap mencintai beliau adalah sebuah pemberian Allah SWT yang sangat indah. Kesabaran dan keteduhan Khadijah dalam menemani Rasulullah berjuang menyebarkan ajaran Islam sangat dikenang oleh Rasulullah SAW. Beliau mendapatkan kedudukan yang begitu istimewa di sisi Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah sering menyebut nama beliau, memuliakan teman-teman beliau sepeningalnya dengan menyembelih seekor kambing dan membagikan daging itu kepada mereka, bahkan Rasulullah pernah bercerita kepada Aisyah tentang kedudukan Khadijah di hati Rasulullah SAW.
“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no. 2435).

Sayyidah Siti Khadijah, juga sosok saudagar muslimah yang cerdas dan sukses, bukan hanya menjadi penyemangat utama di kala sang Nabi lelah dan gelisah, atau pun berperan sebagai sahabat berbagi suka dan duka, melainkan juga merelakan seluruh hartanya habis demi membiayai kebutuhan dakwah agama.


Dari kisah ummul mukminin tersebut setidaknya menggambarkan kenyataan bahwa sejarah awal Islam tidaklah sepi dari keterlibatan kaum wanita sebagai pelaku utama yang tak kalah penting dibanding kaum laki-laki. Mereka menjalankan peran tugasnya menjadi seorang wanita muslimah, istri dan ibu mendidik anak-anaknya, namun juga aktif memikirkan kepentingan publik. Memang para wanita punya kodrat yang berbeda dengan laki-laki. Wanita setelah menikah mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan rumah tangga yakni mengurus suami ,mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak-anak. Dari didikan Khadijah melahirkan garis keturunan Siti Fatimah yang suci. Tidak pernah dijadikan alasan oleh agama untuk memandang rendah kontribusi seorang wanita baik di dalam dan di luar “urusan rumah”, apalagi sampai mencederai prinsip kesetaraan. Islam juga sangat memuliakan wanita, tidak boleh disakiti dan dizalimi sebagaimana sabda Nabi SAW, "Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita," dan dalam riwayat yang lain, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku."

Semoga kita para wanita muslimah dapat meneladani nur yang dipancarkan oleh beliau. Keteladanannya sebagai seorang wanita muslimah, istri Rasulullah SAW. dan seorang ummul mukminin seyogyanya ada yang tertanam dalam diri kita meski hanya sepersekian persen dari keseluruhan akhlak beliau. Dari rahim seorang wanita yang sholehah akan tumbuh benih-benih generasi pemimpin bangsa adil dan cerdas.

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).



INFO EBOOK
Judul                    : Sayyidah Khadijah, Sang Ummul Mukminin
Penulis                 : Diyah Herawati
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.8 [spesial Hari Ibu]
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Senin, 30 November 2020

Kemuslimahan Berkarya

BUKTI CINTA SEJATI
oleh: Endang Purwati

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu Yang abadi padaku”
~ Syair Robiah Al Adawiyah ~

Pada 713 M atau 95 H, di kota Basrah, Irak, telah lahir seorang perempuan bernama Rabiyah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Putri keempat dari keluarga miskin di Basrah, Irak. Ia tumbuh sebatang kara karena kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Seluruh saudaranya meninggal akibat wabah kelaparan yang melanda Basrah. Robiyah merupakan sorang sufi perempuan termasyhur dari Basrah, yang menyerahkan hidupnya hanya untuk mencintai Tuhan-nya, sehingga tidak bisa menemukan cinta yang lain karena kesempurnaan cintanya telah ditemukan dalam Tuhan. Robiyah Al Adawiyah dikenal dalam keutamaan sosial (muamalah) maupun dalam pencapaianya menuju Allah (ma’rifat).

Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna. Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh.

Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah). Kita kemudian mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun kembali.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65).

Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang lain. Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.” Selain itu rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini: Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.

Rabiyatul Adawiyah dikenal dengan keikhlasannya dalam beribadah hingga tak ada lagi di relung hatinya untuk takut terhadap neraka ataupun mengharap surga.

Al-Zabidi dalam Syarh Ihya ‘Ulumuddin menceritakan kisah tentang Sufyan Al-Tsauri dan Rabi’ah. Al-Tsauri bertanya perihal hakikat iman Rabi’ah,“Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka dan menginginkan surga seolah aku menjadi buruh tak patuh. "Jika takut majikan ia akan bekerja, jika dibayar ia baru akan bekerja.’ Aku menyembah-Nya karena cinta dan rinduku pada-Nya"

Tentang ikhlas ini ada sebuah kisah, bahwa suatu siang Rabiah al-Adawiyah tengah berjalan di Kota Baghdad sambil menenteng air dan memegangi obor di tangan kirinya. Seseorang pun bertanya kepadanya hendak dikemanakan air dan obor tersebut? Rabiah al-Adawiyah pun menjawab:  “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air agar  mereka ikhlas dalam menjaga hati. Hamba Allah akan belajar untuk melihat-Nya tanpa harapan pahala atau takut akan siksa. Sebagaimana terjadi sekarang, jika engkau menarik harapan akan pahala atau takut akan siksa, tak akan ada seorang pun yang beribadah atau taat.”

Allah berfirman dalam Alquran surah ar-Ra’d ayat 28-29 berbunyi :



Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Keikhlasan ibadah Rabiah al Adawiyah adalah bukti bahwa jiwanya hanya ada Cinta dan Rindu kepada Allah semata tanpa tendensi yang lainya. Rabiah sudah tidak takut dan tidak merisaukan atas imbalan-imbalan ibadah yang dilakukan. Baginya, mencintai, menjalankan perintah dan mendekat kepada Allah adalah segalanya. Meniru keikhlasan ibadah layaknya Rabiah al-Adawiyah memang terlihat berat bagi hamba seperti kita.

Dari kisah tersebut seharusnya menggugah hati kita untuk lebih mendekat dan terus ibadah kepada-Nya tanpa mengharap suatu imbalan apapun. Beribadahlah dengan hati yang ikhlas.


INFO EBOOK
Judul                    : Bukti Cinta Sejati
Penulis                 : Endang Purwati
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.7
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.



[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...