Sabtu, 10 Juli 2021

SaLam Ilmu

 


Jenis-jenis Darah Kewanitaan dalam Fiqih

🔸Masalah persoalan darah yang keluar dari organ kewanitaan merupakan hal yang harus diketahui oleh Muslimah, karena berkaitan erat dengan ibadah sehari-hari🔸

Syekh Abu Syuja’ menyebutkan dalam matan Taqrib, bahwa darah kewanitaan ada tiga:

 ويخرج من الفرج ثلاثة دماء دم الحيض والنفاس والاستحاضة

Artinya, “Darah yang keluar dari kelamin wanita ada tiga: darah haid, darah nifas, dan darah istihadlah.”

🔹Apa itu darah haid? Darah haid diartikan sebagai “darah yang keluar dari kemaluan perempuan, dalam kondisi sehat, bukan disebabkan melahirkan”.

 فالحيض هو الدم الخارج من فرج المرأة على سبيل الصحة من غير سبب الولادة

🌼 Darah haid atau darah menstruasi ini merupakan mekanisme terkait kerja hormonal dalam tubuh, dan muncul dalam siklus rutin. Berdasarkan keterangan fiqih, masa haid ini umumnya terjadi enam sampai tujuh hari. Lalu sedikitnya masa menstruasi ini adalah sehari semalam, dan paling lama lima belas hari. Keluarnya darah ini dikarenakan meluruhnya dinding rahim yang dipicu oleh kerja hormon dalam tubuh, terutama hormon estrogen dan progesteron, berkaitan dengan produksi sel telur.

🌼 Masa haid ini akan berakhir, sebagaimana dalam keterangan medis, ketika seorang perempuan telah mencapai masa menopause yang mana fase produksi sel telur (ovum) oleh organ ovarium telah berhenti.

🔹 Kemudian, darah selanjutnya adalah darah nifas. Darah nifas ini adalah darah yang keluar setelah proses melahirkan. Dalam keterangan medis, masa nifas ini disebut dengan masa puerpurium, dan darah yang dikeluarkan disebut lokia. Umumnya, sebagaimana disebut dalam Safinatun Najah maupun Fathul Qaribil Mujib, umumnya darah nifas keluar selama 40 hari. Paling sedikitnya adalah sekejap saja, dan paling banyak selama enam puluh hari. Dalam berbagai literatur medis, umumnya masa nifas terjadi selama empat sampai enam atau tujuh pekan.

🔹Selanjutnya adalah darah istihadlah.

Berikut definisinya menurut matan Taqrib:

 والاستحاضة هو الدم الخارج في غير أيام الحيض والنفاس

Artinya, “Darah istihadlah ini adalah darah yang keluar di luar masa rutin haid, serta bukan disebabkan setelah melahirkan.”

🌼 Ia bisa keluar sewaktu-waktu, serta dalam syarah Kifayatul Akhyar misalnya, disebutkan sebab penyakit. Perempuan yang mengeluarkan darah istihadlah ini tetap memiliki kewajiban untuk berpuasa, shalat, dan berwudhu ketika hendak shalat, thawaf, atau memegang mushaf. Ia berstatus sebagaimana orang berhadats kecil.

 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/80631/jenis-jenis-darah-kewanitaan-dalam-fiqih

 

Sabtu, 26 Juni 2021

SaLam Ilmu

 


Khansa', Penyair Perempuan yang Membuat Kagum Rasulullah

Nama lengkapnya adalah Tumâdlir binti ‘Amr bin al-Syarîd dari Bani Sulaim, disebut al-Khansâ’ karena hidungnya yang tidak terlalu panjang. Khansâ lahir di Najd dari keluarga kaya di zaman jahiliyah yang kemudian memeluk Islam. Khansâ merupakan salah satu penyair perempuan terbaik di eranya.

Gaya tutur dan pemilihan diksi yang digunakan Khansâ sangat luar biasa. Dengan karya-karyanya, Khansâ berhasil mengangkat syair-syair ritsa (elegi) ke level qarîdl, yaitu jenis puisi yang dipandang tinggi statusnya oleh orang Arab ketika itu. Meski seorang wanita, Khansâ sangat dihormati oleh sastrawan Arab lainnya.

Al-Nâbighah al-Dzubyânî, seorang penyair dari Bani Dhubyan yang hidup sekitar 535-604, pernah memuji al-Khansâ’ dengan mengatakan “Demi Allah, jikalau Abu Bashir (al-A’syâ) tidak membacakan puisinya padaku lebih dulu, akan kukatakan bahwa kau penyair terhebat dari jin dan manusia.”.

Dikisahkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta Khansa’ untuk membacakan sebuah syair, dan beliau pun kagum pada syair yang dibacakannya (yastansyiduhâ wa ya’jabuhu syi’rahâ).

Setelah memeluk Islam, tema dan isi dari syair-syair ratapan yang telah membawanya ke puncak popularitas berubah. Ketika ia mendengar empat orang anaknya, Yazid, Muawiyah, ‘Amr dan Amrah terbunuh dalam Perang Qadisiyyah dan Shakr yang gugur dalam menuntut balas kematian anaknya. Isi syair menjadi melebihkan ketabahannya, karena ia merasa dimuliakan dengan terbunuhnya mereka.

Khansâ wafat pada tahun 24 Hijriah (645 M) di usia sekitar 70/71 tahun.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya bahwa tidak ada yang membatasi seorang wanita untuk berkarya.

 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/124497/khansa---penyair-perempuan-yang-membuat-kagum-rasulullah

 

Sabtu, 12 Juni 2021

SaLam Ilmu

 

19 Adab Perempuan terhadap Dirinya Sendiri Menurut Imam al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Diin dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, hal. 442-443) menjelaskan tentang sembilan belas adab perempuan terhadap dirinya sendiri meliputi :

1.         Pertama, berorientasi rumah. Perempuan baik selalu memikirkan urusan domestik dalam rumah tangganya sesibuk apapun aktivitasnya di sektor publik.

2.         Kedua, duduk di dalam rumah dan sebaiknya tidak memanjat-manjat dinding atau dengan menaiki tangga untuk berbicara dengan tetangga.

3.         Ketiga, tidak masuk ke rumah tetangga kecuali keadaan memaksa. Hal ini karena di rumah tetangga itu bisa jadi ada laki-laki yang bukan mahrom.

4.         Keempat, menyenangkan suami bila dipandang. Apabila perempuan merawat dirinya dengan baik serta bertutur kata santun maka suaminya akan senang dan betah berada di rumah.

5.         Kelima, menjaga kehormatan suami bila ditinggal pergi.

6.         Keenam, tidak meninggalkan rumah serta apabila keluar hendaknya tidak mencari tempat yang sepi. Hal ini agar lebih terjamin keamanan dan keselamatannya dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, atau buruk secara moral ataupun hukum. 

7.         Ketujuh, menjaga diri dalam memenuhi kebutuhan tetapi menghindari orang-orang yang mengenalnya demi kebaikan diri sendiri.

8.         Kedelapan, mengurus rumah.

9.         Kesembilan, menunaikan shalat dan puasa. Ibadah kepada Allah baik berupa shalat maupun puasa harus dilaksanakan sesibuk apapun.

10.      Kesepuluh, mengoreksi diri sendiri.

11.      Kesebelas, memikirkan agamanya.

12.      Keduabelas, selalu diam. Diam disini bisa dimaknai sebagai sikap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan baik di dalam rumah atau di luar.

13.      Ketiga belas, menundukkan pandangan matanya.

14.      Keempat belas, merasa diawasi Tuhan.

15.      Kelima belas, banyak dzikir kepada Allah SWT.

16.      Keenam belas, taat kepada suami.

17.      Ketujuh belas, menganjurkan suami mencari rezeki yang halal dan tidak menuntutnya berpenghasilan melebihi batas pencapaiannya.

18.      Kedelapan belas, menampakkan sikap malu dan meminimalisasi kata-kata yang tak sopan, bersabar dan selalu bersyukur, bertindak sebagai teladan, menerima keadaan dan kekuatan diri sendiri.

19.      Kesembilan belas, jika seorang teman suami minta diizinkan masuk rumah, sementara sang suami tidak ada, sebaiknya tidak usah dihiraukan dan jangan membiasakan berbicara dengannya, demi menghindari rasa cemburu diri sendiri dan suami.

 

Sumber : 

https://islam.nu.or.id/post/read/107488/19-adab-perempuan-terhadap-dirinya-sendiri-menurut-imam-al-ghazali


Kamis, 20 Mei 2021

PENGUMUMAN HASIL OPEN RECRUITMENT PENGURUS KMNU UNSOED

 

HASIL OPEN RECRUITMENT 

PENGURUS KMNU UNSOED PERIODE 2021/2022



اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hallo, seluruh Keluarga Mahasiswa Nahdlathul Ulama Universitas Jendral Soedirman dan Para Pembaca. Bagaimana kabarnya nihh? Semoga sehat selalu dan dapat lindungan dari Allah SWT.  Aamiin ya rabbal ‘alamin 

Terkhusus buat para calon pengurus KMNU UNSOED yang baru, gimana nih perasaan kalian? Pasti juga gak sabar dong menunggu hasil pengumuman setelah melewati proses screening kemarin. Penulis berharap agar kalian semua diterima sesuai dengan Departemen yang di Inginkan.

Berikut Hasilnya....


PENGURUS KMNU UNSOED 2021/2022

KETUA

  • Ichlasul Amal Makarim
WAKIL PUTRA

  • Ali Suratno
WAKIL PUTRI

  • Istiqomah


SEKRETARIS

    Mengelola administrasi yang rapi dan terstruktur, mengelola inventaris, serta menyampaikan informasi kepada pengurus dan anggota.

  • Kadep : Anindha Zulfa Rahmah
  • Staf : Eka Annisa Fitri


BENDAHARA

    Menciptakan manajemen keuangan yang baik dan transparan meliputi perencanaan, penyusunan, pemerataan dan pelaporan anggaran dana.

  • Kadep : Juliana Dewi
  • Staf : Natasya Syifadela Ardafa

KEMUSLIMAHAN

    Wadah pembentukan, pembinaan, dan pengawasan keorganisasian sebagai wahana kaderisasi anggota KMNU Unsoed putri. Tugas dari departemen kemuslimahan untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian serta aktualisasi diri dalam hal kemuslimahan baik itu kepada anggota ataupun masyarakat umum. Program kerja terdiri dari kajian kitab kemuslimahan, KAMUS Online, Kemuslimahan berkarya, SEMUSIK, dan kemuslimahan traveller.

  • Kadep : Annisa Nurul Hakim
  • Staf :

  1. Elfi Rindiana
  2. Tika meilina wanti
  3. Alfiani Khairaummah
  4. Shafira Fitri
  5. Alfinatun Nashihah


KAJIAN

    Mengembangkan daya nalar, wawasan, dan analisis mengenai keagamaan, nasionalisme, dan nilai-nilai edukatif yang mengacu pada ajaran Ahlusunnah WAl Jama'ah AN-Nahdliyyah.

  • Kadep : Ilham Fadhil Nurantho
  • Staf :

  1. Ivo Ragil P.
  2. Wahyu Nur Hakim
  3. Kurnia Uswatun Khasanah
  4. Miftahul Jannah


PSDM

    Mengelola, membimbing, dan mengembangkan bakat dan minat kader.

  • Kadep : Faridatul Ilmi
  • Staf :

  1. Nafa Shifa Tsaniyah
  2. Wiwin Kurniati
  3. Intan Nur Roudhotul Jannah
  4. Heppi Prasetiani


EKONOMI

    Wadah untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya ekonomi yang mandiri. 

  • Kadep : Cantas Raihana
  • Staf : 

  1. Utvi Suci Andini
  2. Umri Qowiyah Banaa Hasanah
  3. Slamet Tulus
  4. Fasya Pingka Diandari


KADERISASI

    Membentuk, mengawasi, dan menguatkan loyalitas kader.

  • Kadep : Afi Zidni Az Zukhruf
  • Staf : 

  1. Alvin Setiawan
  2. Bagus Purwanto
  3. Irham Fauzi
  4. Khairunnisa Khansa
  5. Robbi Ansah
  6. Siva Nahara Ulya


HUMAS

    Menjalin hubungan internal dan eksternal yang lancar, dinamis, dan edukatif.

  • Kadep : Laelatul Mutmainah
  • Staf :  

  1. Sarwendah Nurhikmah
  2. Moh Dzikri Awwaludin Siddik
  3. Mujiburrahman
  4. Ayu Hidayah Tulloh
  5. Elsa Yasinta
  6. Rezza Fauziyah

MEDIA

    Mengelola Sarana Publikasi, Informasi, dan Komunikasi

  • Kadep : Sayla Nada Rahma
  • Staf :

  1. Mushin Qudhori
  2. L. Astazida Rizqiya
  3. Fariza Noviana
  4. Putra Dwi S.


SELAMAT!!!!!
Kepada Para Pengurus KMNU yang baru, Semoga dapat mengemban amanah dengan baik dan dapat membawa KMNU UNSOED ke arah yang lebih baik lagi..

Selasa, 09 Februari 2021

Kemuslimahan Berkarya

Belajar pada Kesederhanaan, Keikhlasan, dan Keberanian Sang Pelipur Lara Rasulullah SAW., Fatimah Az-Zahra

oleh: Annisa Nurul Hakim

Sayyidah Fatimah merupakan putri dari Rasululullah SAW dengan istri pertamanya sang ummul mukminin, Siti Khadijah. Sayyidah Fatimah tidak kalah mulianya dengan sosok Khadijah yang begitu mulia. Ibnu Hajar serta ulama yang lain dalam suatu riwayat menukil bahwasannya orang pertama yang ditemui Rasulullah SAW ketika kembali dari perjalanannya yaitu putrinya Sayyidah Fatimah az-Zahra. Sayyidah Fatimah memang dikenal sebagai putri kesayangan Rasulullah SAW. Karena dialah pelipur lara Rasul. Rasulullah pernah bersabda "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku" (Hlm 116). Sebegitu cintanya beliau pada putrinya hingga orang yang menyusahkan dan mengganggu putrinya sama saja menyusahkan dan mengganggu beliau.

Kesederhanaan putri Rasulullah SAW dapat terlihat dari beberapa penggal kisah singkatnya sebagai berikut.

Disebutkan dalam kitab Hilyah al-Auliya bahwasannya Sayyidah Fatimah tidak memiliki pakaian pantas yang dapat ia kenakan kala tamu datang ke rumahnya. Sehingga, Rasulullah SAW memberikan jubah beliau pada putrinya tersebut untuk menutupi dirinya.

Kisah lain mengenai kesederhanaan Sayyidah Fatimah dapat terlihat dari kisah mas kawin dan acara walimahnya yang diselenggarakan dengan suasana penuh kesederhanaan. Hal ini menjadi bukti lain kezuhudannya.

Selain itu, Sayyidah Fatimah perempuan mulia yang mana hatinya dipenuhi keikhlasan dalam menjalani kesehariannya. Pengorbanannya di rumah dilaluinya dengan hati ikhlas. Beliau menghaluskan gandum dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menggendong anaknya. Kitab Hilyah al-Auliya menyebutkan, "Fatimah, putri Rasul menggiling gandum dengan tangannya hingga bengkak serta bekasnya dapat terlihat di tangannya." Sungguh mulia hati Sayyidah Fatimah. Ia ikhlas bekerja bersamaan dengan mengurus putranya hingga tangan beliau bengkak.

Sayyidah Fatimah juga putri Rasulullah SAW yang pemberani. Keberaniannya ditunjukkan kala ia membela sang ayah di hadapan orang-orang musyrik di Makkah. Serta kedatangannya di medan Perang Uhud untuk mengobati luka Rasulullah SAW merupakan tanda lain keberanian putri Rasul ini.

Dalam kitab Dzakhair al-'Uqba diceritakan kelahiran Sayyidah Fatimah merupakan buah dari Surga. Hadis itu berbunyi, "Demikianlah kelahiran Sayyidah Fatimah dan ketika lahir, beliau langsung bersujud."

Serangkaian kisah singkat di atas membuktikan bahwasannya Sayyidah Fatimah Az-Zahra termasuk dalam perempuan pilihan yang akhlak mulianya perlu kita teladani. Bahkan sejak lahir hingga akhir hayatnya, kehidupan Sayyidah Fatimah dilalui di jalan penghambaan terhadap Allah SWT. Masya Allah. Semoga kita sebagai muslim dan muslimah dapat meneladani dengan bercermin pada kesederhanaan, keikhlasan, serta keberanian putri Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Aamiin ya Robbal 'Alamin

 

Sumber referensi:

https://jatim.nu.or.id/read/belajar-sederhana-dalam-hidup-kepada-perempuan-pilihan-

https://www.nu.or.id/post/read/75227/para-perempuan-teladan



INFO EBOOK
Judul                    : Belajar pada Kesederhanaan, Keikhlasan, dan Keberanian Sang Pelipur Lara Rasulullah SAW., Fatimah Az-Zahra
Penulis                 : Annisa Nurul Hakim
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.11
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


Senin, 25 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

Belajar Sabar Dari Sosok Asiyah

oleh: Resli April Liani

Asiyah binti Muzahim, merupakan istri raja Fir’aun yang dijadikan simbol sebagai seorang istri penyabar. Asiyah adalah sosok wanita yang patut diteladani dengan segala keteguhan dan kesabarannya meski telah mendapat perlakuan buruk dari sang suami. Sebagai istri Fir’aun, Asiyah tentu mendapatkan segala kemewahan. Namun, hal tersebut tidak membutakan hatinya. Asiyah tetap menjadi manusia yang selalu percaya pada Allah sebagai Tuhannya. Meski suaminya adalah orang yang kejam dan bengis, Asiyah dikenal sebagai sosok perempuan yang sabar, santun, berbudi pekerti luhur, penyayang, dan penuh keteguhan untuk senantiasa berada di jalan Allah SWT.

Ia dipaksa mengakui bahwa suaminya itu adalah Tuhan. Tetapi karena keimanan yang ada di hati Asiyah, ia tetap menolak hingga rela mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari Fir’aun. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Firaun mengikat istrinya dengan besi sebanyak 4 ikatan, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Jika ia telah meninggalkan Asiyah terbelenggu maka para malikat menaunginya" (HR. Abu Ya’la).

Asiyah juga berhasil membesarkan tokoh kunci dalam takdir hidup Firaun di bawah batang hidung raja zalim itu sendiri hingga dewasa. Musa tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani. Meskipun bukan anak kandungnya, rasa cinta Asiyah tak kurang terhadap Musa. Dia mengkhawatirkan keadaan Musa selayaknya seorang ibu kandung. Dia selalu mendoakan Musa agar bisa mendapatkan kemenangan atas Firaun.

Asiyah tidak hanya telah membuktikan diri sebagai hamba Allah yang baik, namun juga sebagai ibu yang baik dan pengasih. Berkat keimanan beliau yang begitu teguh di tengah singsana kerajaan Fir’aun yang kejam, Asiyah binti Muzahim dijamin masuk surga seperti wanita mulia lainnya yaitu Fatimah binti Rasulullah SAW, istri Nabi Muhammad Khadijah binti Khuwailid, dan Maryam binti Imran.


INFO EBOOK
Judul                    : Belajar Sabar Dari Sosok Asiyah
Penulis                 : Resli April Liani
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.10
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.

Senin, 11 Januari 2021

Kemuslimahan Berkarya

 Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim AS.

oleh: Dina Puspita

Siti Hajar dikenal sebagai sosok perempuan yang cantik, mulia, dan juga penuh kesabaran. Selain itu, Siti Hajar juga dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, dan tak pernah mengeluh serta pantang menyerah dalam berbuat kebaikan. Siti Hajar pada awalnya merupakan budak yang membantu Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS. Beliau didatangkan dari tanah Kanan untuk menemani Nabi Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah.

Pada saat itu, Siti Sarah belum juga diberi keturunan sementara usianya terus bertambah. Rasa cintanya kepada sang suami membuat dirinya berpikir untuk memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan.Maka, ia pun meminta Siti Hajar untuk menikah dengan Nabi Ibrahim AS. Dan ia pun berharap pernikahan itu bisa mendatangkan keturunan.

Nabi Ibrahim kemudian memenuhi permintaan Siti Sarah untuk menikah lagi, dan mempersunting Siti Hajar.

Setelah menikah, Siti Hajar kemudian hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.Kelahiran Ismail ternyata membuat Siti Sarah merasa cemburu. Karena rasa cemburu itu, Siti Sarah pun berjanji tak mau tinggal dengan Siti Hajar dan anaknya dalam satu atap.Imam al Tsalabi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa Siti Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.

Pada waktu itu Makkah sangatlah tandus, Tidak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Di sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan, At-Tabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya.

Semakin jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan mengatakan "Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini?"."Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?". "Benar" jawab Ibrahim. "Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami" kata Siti Hajar. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memandang semua wilayah di area lembah yang gersang dan panas tersebut. Namun beliau masih percaya dan yakin atas ucapan yang disampaikan sang suami, bahwa kekuasaan Allah adalah keniscayaan. Allah selalu menolong hamba-Nya yang sedang dilanda kesusahan. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya atas janji Allah yang disampaikan oleh sang suami.

Waktu perlahan berlalu, tangisan Ismail mulai terdengar, menjadi sebuah pertanda bahwa ia mulai kehausan. Setelah itu, beliau pun berkeliling mencari air. Kakinya melangkah dari bukit Shafa ke Marwa, dan sebaliknya. Ia berjalan bolak-balik di antara dua bukit itu hingga tujuh kali. Namun sayang, usahanya sia-sia. Beliau kemudian kembali menemui sang putra dan khawatir jika putranya tidak bisa bertahan. Di tengah kegelisahan dan keputusasaan, beliau memohon kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang putra.

Setelah itu, Allah kemudian memberikan mukjizat-Nya Kaki Ismail mulai bergerak-gerak, tumitnya dihentak-hentakkan di tanah yang gersang, beliau lalu memandangi putra yang dikasihaninya, dan menganggap perilaku putranya itu masih sebuah kewajaran.Namun tanpa diduga, air begitu derasnya mengucur dari jejak hentakan kaki Ismail. Tanpa pikir panjang, belaiu  pun memberi minuman Ismail dengan air itu dan juga mengambilnya untuk dirinya sendiri. Sumber mata air itu kini dikenal sebagai mata air Zamzam. Air itulah yang membantu Siti Hajar bertahan di lembah gersang.


Kisah perjuangan Siti Hajar ini memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa sebagai seorang muslimah harus kuat, sabar, tegar, dan tak mudah putus asa meski kesulitan bertubi-tubuh sedang menimpanya.



INFO EBOOK
Judul                    : Kisah Kesabaran Siti Hajar, Istri Nabi Ibarahim AS.
Penulis                 : Dina Puspita
Serial                   : Kemuslimahan Berkarya Vol.9
Link download      click here

"Kemuslimahan Berkarya" merupakan salah satu program kerja Divisi Kemuslimahan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Jenderal Soedirman yang merupakan sarana pengembangan diri anggota putri KMNU Unsoed dan pengurus agar dapat menyalurkan potensi minat dan bakat dalam bidang kepenulisan.


[Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita]

 [Sayyidah Aisyah, Pembela Kaum Wanita] Sayyidah Aisyah adalah perempuan yang sangat cerdas, berwawasan luas, memiliki daya tangkap dan daya...